Sabtu, 30 Juni 2012

Renungan (17): Onta dan Lobang Jarum

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mat.19:23-24)


Bila kita mendengar atau membaca pernyataan Tuhan Yesus di atas maka yang terbayang adalah bahwa yang bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga adalah hanya orang-orang miskin saja, sedang orang kaya tempatnya adalah di neraka. Sebenarnya maksud perkataan Tuhan itu tidak demikian, karena semua orang mempunyai hak yang sama untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Yang dimaksudkan dengan perkataan di atas adalah bahwa orang yang berpikiran duniawi akan sangat sulit masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Apakah berarti mereka (yaitu orang yang kaya) tidak dapat memasukinya ? tentunya tidak demikian, karena bagi orang kaya yang berpikiran duniawi memang sangat sulit, tapi bila mereka mau berusaha untuk berubah dan bertobat tentu saja mereka dapat memasukinya walau dengan susah payah. Keadaan ini digambarkan oleh Tuhan Yesus dengan  seekor onta dan lobang jarum. Bagi pendengar pada waktu Tuhan Yesus hidup dan pembaca Injil pada abad pertama yang hidup di Timur-Tengah ungkapan Tuhan itu tentu dapat dimengerti dengan jelas. Tapi bagi pembaca Injil pada masa sekarang dan yang berasal diluar Timur-Tengah menjadi suatu ungkapan yang sulit dimengerti. Karena bagaimana mungkin seekor onta yang mempunyai ukuran lebih besar dari kuda dapat masuk melalui lobang jarum yang semut saja tidak bisa melewatinya. Adanya pikiran seperti itulah yang kemudian menjadikan perkataan Tuhan Yesus tidak mudah dipahami orang Kristen pada masa sekarang.


Istilah 'lobang jarum' adalah pintu kecil yang terdapat pada pintu gerbang kota Kerajaan pada masa itu. Dan pintu gerbang kota bila malam hari ditutup rapat untuk menahan dan menghambat pasukan musuh yang hendak menyerang kota. Bagi orang luar yang hendak memasuki kota atau orang yang hendak keluar kota pada malam hari, mereka harus melewati pintu kecil yang dijaga prajurit bersenjata dan diperiksa dengan ketat. Pada masa kini pintu kecil seperti itu sering dijumpai pada pintu-pintu gerbang rumah atau bangunan yang besar. Dimana pintu kecil dibuat pada satu bagian dari pintu gerbang yang besar itu, agar bila ada orang yang akan masuk atau keluar rumah tidak perlu membuka pintu gerbang. Pintu kecil seperti ini yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan 'Lobang jarum'.


Jadi sebenarnya bukanlah hal yang mustahil bagi seekor onta untuk memasuki pintu yang demikian, karena seekor onta mempunyai kemampuan untuk merunduk, yaitu merendahkan tubuhnya dengan menekuk kaki depannya dan memasuki pintu kecil itu.  Demikian pula dengan seorang yang kaya,  bukanlah hal yang mustahil baginya untuk memasuki Kerajaan Sorga bila ia dapat meniru perbuatan onta yang menekukan kakinya itu. Ia juga harus mau merendahkan dirinya dihadapan Tuhan, mau bertobat dan tidak mengandalkan pada kekuatannya sendiri. Karena banyak orang yang berpikiran duniawi beranggapan bahwa mereka dapat melakukan segalanya dengan uang/ kekayaan yang mereka miliki; beranggapan segalanya dapat dibeli dengan uang, beranggapan segala masalah dapat diselesaikan dengan uang, beranggapan kebenaran dapat dibeli dengan uang, beranggapan kehormatan dapat dibeli dengan uang, bahkan beranggapan orang pun bisa dibelinya dengan uang.


Tuhan Yesus menyatakan bahwa 'orang kaya sangat sulit masuk  kedalam Kerajaan Sorga' bukan berarti bahwa orang miskin mudah masuk Kerajaan Sorga.  Orang kaya dan orang miskin  keduanya dapat masuk Kerajaan Sorga bila mereka dapat melakukan  kehendak Tuhan, yaitu mau bertobat dan hidup menurut tuntunan Roh. Karena masing-masing mempunyai keberatannya sendiri, baik yang kaya maupun yang miskin mempunyai kekuatirannya sendiri. Yang kaya kuatir hartanya berkurang, sedangkan yang miskin kuatir akan hidupnya. Jadi baik orang yang kaya maupun orang yang miskin sama sulitnya untuk masuk Kerajaan Allah bila mereka masih berpikiran duniawi.

Jumat, 29 Juni 2012

Renungan (16): Hal Kekuatiran

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?  Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?  Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,  namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.  Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?  Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat.6: 25-34)

Dalam kehidupan pada masa sekarang dan masa Tuhan Yesus atau masa yang jauh sebelum Tuhan yesus, kehidupan manusia di dunia tidak jauh berbeda, mereka hanya disibukan oleh urusan-urusan mencari makan-minum dan kawin-mengawinkan (Mat.24:28).

Mat. 24:38  Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,..........................................
Dan dalam kesibukannya itu manusia selalu di bayang-bayangi oleh perasaan kuatir sehingga perhatian mereka hanya tertuju pada hal-hal yang duniawi saja. Pada masa sekarang orang memanfaatkan perasaan kuatir itu dengan menawarkan  perasaan aman melalui polis asuransi. Karena itulah maka Tuhan Yesus menyerukan pada mereka untuk tidak kuatir dan mendorong mereka untuk mencari Kerajaan Allah.
Ajakan Tuhan itu adalah pernyataan yang perlu direnungkan dengan mendalam agar dapat dimengerti dengan jelas dan benar.  Kebanyakan orang Kristen  menyangka/mengartikan kalimat  ”carilah dahulu Kerajaan Allah” adalah dengan rajin mengikuti ibadah-ibadah di gereja atau kegiatan kebaktian  rohani. Inilah satu pemikiran yang sangat dangkal,  sebab pada saat Tuhan Yesus menyatakan ajakan itu belum terbentuk lembaga gereja seperti sekarang ini. Dari pada itu maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran di atas adalah satu pemikiran yang bukan seperti yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus.

Jadi harus ada pengertian yang lebih mendalam, yaitu bahwa “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya”  itu adalah merupakan pengalaman dari orang beriman ketika mereka sudah dapat merasakan sukacita damai sejahtera dalam hidupnya. Dimana perasaan itu bukan disebabkan oleh karena lingkungan di luar dirinya, melainkan timbul dari dalam hatinya ketika ia sudah tidak lagi merasa kuatir akan segala sesuatu dalam hidupnya dan ketika ia dapat bersyukur akan segala yang telah diterimanya dari Allah. Dalam hal ini hidupnya sudah tidak terpengaruh lagi oleh segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Sehingga ketika ia mendapatkan hal yang menyenangkan, ia bersyukur tetapi tidak sampai mabuk karenanya. Dan ketika ia mendapatkan hal yang tidak menyenangkan, ia tetap dapat bersyukur dan tidak larut oleh kesedihannya itu.

Sedangkan kalimat  “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu “  sering dimengerti akan mendapatkan kelimpahan harta duniawi. Inilah suatu pemikiran yang terlalu duniawi dan tentunya tidak sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus. Bila lebih teliti tentu kata ‘ditambahkan’ mempunyai arti yang jelas, bahwa yang  ditambahkan  itu sebagai bonus, bukan yang utama; yang utama adalah pengalaman merasakan sukacita damai sejahtera itu sendiri. Jadi segala sesuatu yang ditambahkan adalah sebagai bonus dan itu bukan merupakan hal yang penting, ada baik tetapi bila tidak ada pun tidak menjadi menjadi masalah bagi dirinya, karena ia telah mendapatkan sukacita damai sejahtera dalam hidupnya.
Perasaan sukacita damai sejahtera itu mempunyai nilai yang melebihi segala apapun yang ada di dunia; karena perasaan itu tidak dapat diperoleh dengan menukarnya dengan uang atau barang seberapa banyaknya sekalipun. Jika demikian jelas segala yang akan ditambahkan atau bonus itu menjadi kurang berharga lagi dan keberadaannya tidak penting lagi baginya. Hal ini sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus di awal perikop di atas yang menyarankan orang untuk tidak mengumpulkan harta di bumi melainkan mengumpulkan harta di sorga, yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan kasih terhadap sesamanya manusia. Orang beriman yang mau melakukan seperti yang disarankan Nya adalah orang kristen rohani yang akan menghasilkan buah roh dengan segala sifat-sifatnya di dalam dirinya (Gal.5:22-23)

Gal. 5:22-23  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
 
Seorang yang mempunyai Kasih maka : Ia harus orang yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak megahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1Kor.13:4-7).

Seorang yang mempunyai sukacita, adalah orang yang menjalani hidup dengan hati yang gembira, bergairah, peramah dan murah senyum, dimana ia menjalani hidupnya dengan ringan tanpa tekanan yang berarti, dan tidak merasakan beban yang terlalu berat.

Seorang yang mempunyai damai sejahtera , adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang diperolehnya sebagai berkat dari Tuhan, tidak ambisius, tidak serakah, dan jiwanya selalu dalam keadaan tenang .

Seorang yang mempunyai kesabaran adalah orang yang selalu dapat menunggu segala sesuatu, dapat mengerti kelemahan orang lain dan mempunyai persediaan maaf yang tidak terbatas.
Seorang yang mempunyai kemurahan adalah orang yang selalu mau memberi kepada orang lain, baik waktu, harta benda, maupun hidupnya sekalipun.

Seorang yang mempunyai kebaikan adalah orang yang selalu melakukan segala sesuatu demi kepentingan orang lain dan kebaikan bersama.

Seorang yang mempunyai kesetiaan adalah orang yang tidak mudah berubah pikiran dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah diucapkannya sesuai dengan kata hati nuraninya.

Seorang yang mempunyai kelemah-lembutan adalah orang yang memperlakukan orang lain dengan penuh kasih dan penuh perhatian.

Kamis, 28 Juni 2012

Renungan (15): Orang-orang Upahan di Kebun Anggur

 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.  Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.  Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.  Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.  Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.  Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?  Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.  Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.  Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.  Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.  Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,  katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.  Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?  Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.  Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?  Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Mat.20:4-16)

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini dengan maksud untuk memberitahu dan mengajar murid-murid Nya dan orang banyak yang datang kepada Nya tentang hal Kerajaan Sorga. Tetapi Ia mengetahui bahwa hal Kerajaan Sorga yang hendak disampaikan Nya itu tidak mungkin dibicarakan secara terus terang, karena dinilai Nya saat itu kebanyakan orang belum siap untuk menerima pengajaran Nya. Hal ini nyata dari dari ungkapan yang diutarakan Nya (juga dengan perumpamaan): "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." (Mat.7:6)
Dan Ia hanya memberitahukan dengan terus-terang tentang pengajaran Nya itu hanya kepada murid-murid Nya saja. 
Mat.13:36-43 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."   Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;  ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.  Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.  Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.  Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.  Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.  Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Sampai pada masa sekarang pun Tuhan Yesus masih mengajar murid-murid Nya dan memberitahu segala sesuatu tentang hal Kerajaan Sorga dengan terus terang. Tetapi kepada orang yang bukan murid, Ia membiarkan hal Kerajaan Sorga itu tetap terselubung sehingga tetap menjadi rahasia.
Mereka yang dapat menjadi murid Nya adalah orang-orang yang mau menyerahkan hidupnya seutuhnya bagi Nya, yang diungkapkan Tuhan Yesus dengan perkataan:  "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu.................................................
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk.14:26-33)

Tetapi dalam kesempatan lain Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa segala pengajaran tentang Kerajaan Sorga itu tidak selamanya akan terselubung dan suatu saat harus diberitakan dengan terus-terang.

Mrk.4:21-23  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Demikian halnya dengan perumpamaan tentang 'Orang-orang upahan di Kebun Anggur' dimasa sekarang pun sudah boleh dinyatakan dengan terbuka dan rahasia tentang Kerajaan Sorga sudah saatnya disingkapkan agar semua orang mendengar dan banyak orang berbondong-bondong memasukinya.
Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus memberitahukan bahwa untuk dapat masuk Kerajaan Nya, orang harus menjadi murid Nya dan bagi mereka yang mau menjadi murid tidak diperhitungkan berapa lamanya mereka menjadi murid, melainkan dapatkah mereka melakukan seperti yang dikehendaki Nya. Mereka akan mendapatkan tempat yang paling mulia dalam Kerajaan Nya, yaitu bagi mereka yang mau menyerahkan hidupnya seutuhnya bagi Tuhan dan atau mati dalam nama Nya.
Jadi yang diajarkan Tuhan Yesus adalah tuntutan tertinggi yang harus dijalani oleh murid-murid Nya. Karena bagi murid-murid Nya itu telah disediakan Nya tempat yang paling mulia dalam Kerajaan Sorga.

Mrk.10:35-40  Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."
 
Yoh.14:1-4  "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."

Orang yang bekerja mulai pagi-pagi benar adalah mereka yang bertobat semasa masih berumur muda belia /remaja; orang yang mulai pukul sembilan adalah mereka yang bertobat pada masa masih muda; orang yang mulai bekerja pukul dua belas dan pukul tiga petang adalah mereka yang bertobat pada usia dewasa; sedangkan orang yang bekerja mulai pukul lima petang adalah mereka yang bertobat pada masa sudah tua.
Dalam hal pemberian upah mereka dihargai sama yaitu satu dinar, yang menggambarkan kehidupan kekal ditempat yang paling mulia yang telah disediakan Nya dalam Kerajaan Sorga.

Dalam hal ini Tuhan tidak bertindak pilih kasih, Ia tetap bertindak adil karena semua orang bekerja dan melakukannya dengan sama baiknya, yaitu mereka mau menyerahkan hidupnya bagi Tuhan dan atau mati dalam nama Nya. (lihat Peta Pertumbuhan Iman Kristiani (12)

Profil Yesus Kristus dari Nazaret (01)

Dari informasi arsip surat yang diketemukan dan dapat kita baca sekarang, menjadi bukti bahwa Yesus dari Nazaret yang dipercayai oleh orang-orang Kristen sebagai Tuhan dan Juru Selamat dunia adalah benar-benar tokoh sejarah yang nyata. Pendapat yang mengatakan bahwa Yesus adalah 'tokoh rekaan' menjadi pendapat yang ketahuan tidak berdasar argumen yang kuat, bahkan tidak berdasar sama sekali. Dan orang yang mengikuti pendapat ini dapat disamakan dengan orang yang menghujat Roh Kudus

Sebab itu Aku berkata kepadamu:  Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak. (Mat.12:31-32) 

Dari surat dibawah ini, dapat dimengerti mengapa Pilatus  ’tidak berani’  menjatuhkan vonis hukuman mati atas Yesus.  

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”  (Mat. 27:24)                                  

SURAT PONTIUS PILATUS*

Ternyata selama masa pemerintahannya sebagai Gubernur Yudea, Pontius Pilatus pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Tiberius di Roma melaporkan mengenai aktivitas dari pelayanan Yesus. Surat ini ditulisnya pada tahun 32 AD. Berikut adalah isi suratnya :
___________________________                                                                                                       
                                                                                  KepadaYang Mulia
  

Kaisar Tiberius


Seorang anak muda telah muncul di Galilea dan atas nama Elohim yang mengutusnya, Dia telah berkhotbah dalam sebuah hukum yang baru, dengan perilaku yang rendah hati. Pada mulanya saya mengira tujuan-Nya adalah untuk menimbulkan gerakan revolusi rakyat untuk melawan pemerintahan Roma. Dugaan saya keliru, Yesus Orang Nazaret itu ternyata bergaul lebih akrab dengan orang Romawi daripada dengan orang Yahudi.

Suatu hari saya memperhatikan, ada seorang anak muda di antara sekelompok orang, sedang bersandar pada sebatang pohon dan berbicara dengan tenang kepada kumpulan orang banyak yang mengelilingi-Nya. Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itulah Yesus. Terdapat perbedaan yang jelas antara Dia dan orang-orang yang mengelilingi-Nya. Dari rambut dan janggutnya yang pirang, Ia kelihatan seperti “Tuhan” (Lord).
Ia berumur sekitar 30 tahun, dan saya belum pernah melihat orang dengan wajah sedemikian simpatik dan menyenangkan seperti Dia. Apa yang membuat Ia kelihatan begitu berbeda dengan orang-orang yang sedang mendengarkan-Nya adalah pada wajah-Nya yang ceria. Karena saya tidak ingin mengganggu-Nya, saya meneruskan perjalanan saya, tetapi saya menyuruh sekretaris saya untuk bergabung dengan mereka dan turut mendengarkan pengajaran-Nya.
Kemudian sekretaris saya melaporkan bahwa belum pernah ia membaca karya-karya ahli filsafat manapun yang dapat disejajarkan dengan ajaran Orang itu, dan bahwa Orang itu (Yesus) sama sekali tidak membawa orang ke jalan yang sesat, dan tidak pula menjadi penghasut. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk membiarkan-Nya. Ia bebas untuk melakukan kegiatan-Nya berbicara dan mengumpulkan orang. Kebebasan yang tidak terbatas ini menggusarkan orang-orang Yahudi dan menimbulkan kemarahan mereka. Ia tidak menyusahkan orang miskin, tetapi merangsang kemarahan orang-orang kaya dan para tokoh masyarakat.Kemudian saya menulis surat kepada Yesus, meminta Ia untuk diwawancarai dalam suatu pertemuan. Ia datang. Pada saat Orang Nazaret itu tiba, saya sedang melakukan jalan pagi. Dan ketika saya memperhatikan-Nya, saya begitu tertegun. Kedua kaki saya serasa dibelenggu oleh rantai besi yang terikat pada lantai batu pualam. Seluruh tubuh saya gemetar bagaikan seorang yang bersalah berat. Namun Ia tenang saja. Tanpa beranjak, saya begitu terpukau dengan orang yang luarbiasa ini beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan pada penampilan atau perilaku-Nya.. Selama kehadiran-Nya saya menaruh hormat dan respek yang mendalam pada diri-Nya. Saya katakan kepada-Nya bahwa pada diri dan kepribadian-Nya terdapat sesuatu yang memancar dan menunjukkan kesederhanaan yang memukau, yang menempatkan Ia di atas para ahli filsafat dan cendekiawan masa kini. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada kami semua karena sikap-Nya yang simpatik, sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk mengamati aktivitas pelayanan menyangkut Yesus dari Nazaret ini.

Pendapat saya adalah :
Seseorang yang mampu mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan menenangkan gelombang laut, tidak bersalah sebagai pelaku perbuatan kriminal sebagaimana dituduhkan oleh orang banyak. Kami harus mengakui bahwa sesungguhnya Ia adalah Putra Elohim.
                                                                                  
                                                                                  
Pelayan anda yang setia,
                                                                                   
                

Pontius Pilatus.
___________________________   
* Surat di atas tersimpan di Perpustakaan Kepausan di Vatikan, dan salinannya mungkin dapat diperoleh di Perpustakaan Kongres Amerika. (di copy-paste dari blog Didik Anantha)

Rabu, 27 Juni 2012

Renungan (14): Berniaga

Bila kita berbicara tentang ekonomi pasti yang kita pikirkan adalah uang. Hal ini tidak dapat dihindarkan sebab uang adalah alat tukar dalam kegiatan ekonomi, bahkan telah menguasai segala segi kehidupan manusia. Tidak terkecuali dengan orang beriman, juga tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan ekonomi dan uang, sebab kita hidup didalam lingkungan dunia yang sudah terpola dan masuk kedalam sistem ekonomi dunia. Agar kita tetap dapat mengamalkan iman maka kita harus mengerti bagaimanakah pandangan Alkitab atau lebih khusus lagi pandangan Tuhan Yesus terhadap kegiatan ekonomi dan uang? Secara eksplisit kita tidak akan menemukan petunjuk mengenai kegiatan ekonomi di dalam Alkitab, karena Tuhan Yesus mengajarkan hal rohani bukan hal jasmani. Tetapi secara implisit kita dapat menggunakan perkataan Tuhan Yesus sebagai dasar dalam melakukan kegiatan ekonomi, sehingga orang beriman yang melakukan kegiatan ekonomi tidak terhambat imannya.
Terdapat beberapa ayat firman Tuhan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan kegiatan ekonomi dan uang yang sesuai dengan kehendak Nya, yaitu:

1)  “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” ( Mat.10:16 )

Perkataan Tuhan Yesus ini mempunyai makna bahwa kita sebagai orang beriman hidup di dalam sistem dunia (yang sangat kejam) harus menggunakan hikmat, agar tidak mudah tertipu oleh segala upaya-upaya licik yang dilakukan oleh orang-orang dunia. Tetapi kita tidak boleh melupakan kejujuran, keramahan, kebaikan, kemurahan, dan persaudaraan. Prinsip ini berlaku pula bagi orang beriman dalam melakukan kegiatan ekonomi dan mengelola uang. 

Orang dunia menggunakan prinsip “Dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapat laba sebesar-besarnya”, dengan prinsip ini maka semakin kecil modal yang dikeluarkan untuk mendapat keuntungan yang sangat besar dianggap suatu keberhasilan yang diidam-idamkan. Oleh karena itu terkadang untuk mencapai tujuannya tidak segan-segan orang melakukan perbuatan yang tidak pantas; merugikan orang lain, melakukan kecurangan-kecurangan, bahkan ada yang sampai rela bersekutu dengan setan.
Tetapi orang beriman menggunakan prinsip “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” dengan mengutamakan kejujuran, keramahan, kebaikan, kemurahan, dan persaudaraan, sehingga memberikan peluang bagi pertumbuhan imannya.
Hal ini dapat dilakukan karena sebagai orang beriman , ia tahu bahwa berkat duniawi berasal dari Tuhan  yang memberi  masing-masing orang menurut takarannya sendiri-sendiri, dan manusia tidak dapat mengubahnya, baik untuk menambah atau menguranginya.. Jadi selama orang mau berusaha dan bekerja keras dan tidak malas, maka berkat pasti akan diturunkan kepadanya sesuai dengan takaran yang diberikan Tuhan dengan tidak membeda-bedakannya, apakah orang itu berbuat baik atau berbuat jahat, berkulit putih atau berwarna, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus. Karena Tuhan memberikan semua itu berdasarkan kerelaan dan otoritas Nya sendiri. Maka tidak ada alasan  untuk menjadi kuatir karena Tuhan Yesus berfirman bahwa burung-burung diudara pun dipelihara, dan bunga rumput pun dihiasi dengan bunga yang cantik (Mat:6:25-34) apalagi orang yang beriman kepadaNya.
Adalah suatu perbuatan yang sangat bodoh apabila sudah tahu dasar Tuhan memberikan berkatNya itu, lalu berusaha memperolehnya dengan melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang dibenci Tuhan.

 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat. 6:25-34)

2) Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. (
Luk.16:9 )

Ini merupakan perintah yang harus dilakukan oleh orang beriman setelah memperoleh berkat duniawi, karena dengan mempergunakan uang untuk perbuatan-perbuatan baik atau perbuatan kasih yaitu dengan membantu orang yang sedang terkena musibah, orang yang meminta pertolongan, dan orang-orang yang kurang beruntung dalam hidupnya, maka kita seperti sedang menabung harta di Sorga. Efek yang kita dapat adalah pada pertumbuhan iman kita, yang pada gilirannya akan menghasilkan buah Roh yang disukai Tuhan.

Luk.16:13 “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Dengan melakukan perintah Tuhan Yesus itu berarti kita tidak memberhalakan uang (mamon), karena itu kita bukan hamba mamon, melainkan menjadi hamba Tuhan. Bukankah sebagai hamba Tuhan kita harus melakukan semua yang diperintahkan Tuhan kepada kita dengan taat dan hati penuh sukacita, sehingga Tuhan berkenan terhadap semua yang kita lakukan bagi Nya.

3)  Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” ( Luk.20:25 )

Kaisar atau pemerintah adalah wakil Tuhan untuk mengatur manusia yang hidup di dunia. Dan untuk kegiatannya pemerintah membutuhkan dana atau uang yang diperlukan untuk membayar pegawai-pegawainya, dan membiayai sarana dan prasarananya, sehingga tugas pemerintah itu dapat berjalan dengan lancar. 
Pemerintah memperoleh dana berupa pajak yang dikumpulkan dari warga negara yang mampu. Adalah suatu kewajiban bagi seorang warga negara yang beriman untuk membayar pajak kepada pemerintah, karena ini juga merupakan perintah Tuhan Yesus.

Luk.18:24-25 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Ini merupakan suatu keluhan Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang mendapat berkat yang sangat banyak dari Nya namun hatinya melekat pada mamon.
Hal ini terjadi karena orang itu tidak beriman dan atau hidup menurut daging . Jadi seorang yang beriman pun bila hidup menurut daging, hatinya akan melekat pada mamon.

Adalah suatu hal yang sangat sulit bagi seorang kaya untuk hatinya tidak melekat pada mamon, sebab kekayaannya itu sudah merupakan suatu kesenangan dan telah memberikan kepuasan kepadanya. Semakin besar kekayaan yang ia punyai maka semakin kuat pula daya tarik mamon bagi dirinya, sehingga semakin sulit pula ia melepaskan diri dari padanya.
Bilamana seorang beriman hidup dalam Roh niscaya seberapa banyak kekayaan yang ada padanya tidak akan membuatnya terikat pada mamon, sebab hatinya telah melekat pada Tuhan. Bahkan kekayaan yang dimilikinya itu bermanfaat bagi dirinya untuk mendukung pertumbuhan imannya. Karena ia akan selalu ingat perkataan Tuhan, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”  (Mat.4:4).

Renungan (13): Karunia-Karunia Roh Kudus

Didalam Injil terdapat keterangan bahwa mereka yang diutus Yesus Kristus menumpangkan tangan pada orang sakit, orang itu sembuh; Dapat mengusir setan yang merasuk pada orang kesurupan; Diberi makanan beracun tidak mati, atau digigit ular beracun tidak mati (Mrk.16:17-18);  Di dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menyebutkan ada 9 (sembilan) Karunia Roh, yaitu:  karunia kesembuhan, karunia mujizat, karunia membedakan roh, karunia iman, karunia hikmat, karunia makrifat, karunia bernubuat, karunia bahasa roh, dan karunia mengartikan bahasa roh (1 Kor.12:8-10). 

Mrk.16:17-18  Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka. mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

1Kor.12:8-10  Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang  Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

Karunia Kesembuhan adalah kemampuan untuk membuat orang sakit sembuh dari sakitnya ketika  menumpangkan tangannya keatas kepala orang sakit.

Karunia Membuat Mujizat adalah kemampuan untuk melakukan mujizat, misalnya mengubah air tawar menjadi air anggur, atau menggandakan ikan dan roti.

Karunia Membedakan roh adalah karunia untuk melihat roh-roh setan dan roh-roh manusia. Dengan karunia Roh ini dapat melihat roh-roh jahat yang masuk kedalam tubuh orang yang kesurupan, dan berkuasa untuk mengusir roh-roh itu keluar dari tubuh orang itu. Dan dapat melihat sejarah masa lalu seseorang, dapat membaca pikiran dan isi hati seseorang sehingga orang tidak dapat membohonginya.

Karunia Iman adalah karunia yang memberikan kemampuan agar dapat menyerahkan seluruh jiwa dan raganya sehingga bila Tuhan menghendakinya untuk menyerahkan nyawanya sekalipun ia tidak menolak.

Karunia Hikmat adalah kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi didalam kehidupan manusia, baik yang ada dalam hidup seseorang secara pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain, atau dengan mahkluk lain atau dengan alam lingkungannya. 
Contoh yang sangat terkenal dari karunia ini adalah Hikmat Salomo, dimana ia dapat memecahkan perselisihan antara dua orang ibu  yang datang kepadanya, dan menentukan ibu yang sebenarnya dari balita yang diperebutkan itu.

Karunia Makrifat/ karunia berkata-kata dengan pengetahuan, adalah kemampuan yang diberikan  untuk mengerti ajaran-ajaran Tuhan dan kehendakNya terhadap hidup manusia. Ajaran Tuhan Yesus adalah KASIH, Tuhan menghendaki manusia untuk mengembangkan sikap penuh kasih. Dengan Kasih orang akan dapat bersabar, mau berkorban, dan penuh perhatian kepada orang lain dan kepada mahkluk ciptaan Tuhan yang lain. 

Karunia Bernubuat adalah suatu karunia untuk berkomunikasi dengan Tuhan, dimana Tuhan bisa berfirman menggunakan mulutnya kepada orang itu sendiri dan kepada orang lain baik perorangan atau orang banyak (jemaah).

Karunia Berbahasa roh adalah karunia untuk berkomunikasi kepada Tuhan dengan menggunakan bahasa-bahasa lain yang tidak dimengerti oleh manusia maupun setan. Yang mengerti hanya roh manusia dan Tuhan. Dengan karunia ini rohnya mengungkapkan perasaan-perasaannya yang terdalam, yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa manusia kepada Tuhan, yaitui keluh-kesah atau puji-pujian kepada Tuhan.
Dan Tuhan juga dapat menyampaikan firmanNya melalui bahasa-bahasa lain itu, yang isinya penghiburan, nasihat, atau teguran. Dalam hal ini perlu diterjemahkan oleh orang yang mempunyai karunia mengartikan bahasa roh, bisa oleh orang itu sendiri atau oleh orang lain.

Karunia Mengartikan bahasa roh adalah suatu karunia untuk mengartikan bahasa-bahasa lain yang tidak dimengerti oleh manusia itu (karunia bahasa roh).
 
Karunia -Karunia Roh diberikan,  mempunyai tujuan untuk memelihara gereja agar dapat bertumbuh dengan subur dan menghasilkan buah Roh yang berlimpah-limpah bagi Tuhan (1 Kor.12:7). Di dalam prakteknya karunia-karunia itu tidak bekerja secara tunggal, melainkan saling terkait. Misalnya karunia bahasa roh akan dilengkapi dengan karunia mengartikan bahasa roh atau dengan karunia bernubuat atau ketiganya bekerja secara bersama-sama. Karunia bernubuat dalam jemaat akan dilengkapi dengan karunia membedakan roh atau karunia kesembuhan atau karunia membuat mujizat. Demikian pula dengan karunia-karunia Roh yang lain. Untuk kepentingan gereja maka adalah suatu keharusan meminta kepada Tuhan Yesus untuk melengkapi jemaat dengan berbagai-bagai karunia Roh itu (Luk.11:13).

1Kor.12:7  Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Luk.11:13  Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.

Renungan (12): Berserah

Kalimat ini sangat sering kita dengar diucapkan orang-orang beriman dalam percakapan mereka sehari-hari, baik di gereja maupun di luar gereja, di pasar- pasar, di mal-mal, di jalan atau di tempat-tempat lain. Kadang orang mengucapkan perkataan ini tidak memahami maknanya secara jelas, karena “berserah” sering rancu dengan “pasrah”. Padahal bila kita mau menyelidiki maknanya akan kita temukan perbedaan yang cukup jauh, sehingga dalam memahami kalimat “Berserah kepada Allah” mempunyai pengertian yang tepat dan jelas sesuai dengan yang dimaksud dengan pengajaran Tuhan Yesus.

Berserah adalah kata kerja aktif yang bermakna menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah karena percaya, bahwa Allah akan memeliharanya dan memberikan yang terbaik kepadanya. Sedangkan Pasrah adalah kata kerja pasif yang bermakna menyerahkan segalanya kepada Allah karena ia sudah tidak berdaya lagi, atau telah menyerah kalah, tidak dapat melawan lagi. Didalam kerohanian jelas sekali perbedaannya, berserah adalah tindakan iman yang mempersilahkan Tuhan untuk campur tangan dalam hidupnya, sedangkan pasrah adalah ungkapan yang mencerminkan keputus-asaan, bukan karena iman.

Pengajaran Tuhan Yesus mengenai “Berserah“ dapat kita ketemukan dalam Injil, yang pada dasarnya dapat kita bedakan menjadi dua prinsip, yaitu:

Prinsip pertama adalah Hidup Menurut Roh.

Marilah kepadaku , semua yang letih dan lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikul lah kuk yang kupasang dan belajarlah pada Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban Ku pun ringan.
(Mat.11:28-30)  

Ini adalah perkataan Tuhan Yesus yang dengan terbuka mengajak kita untuk datang dan menyerahkan hidup kita kepadanya, dengan janji akan diberikan kelegaan dan ketenangan hidup. Tetapi yang datang kepadaNya akan diberi beban atau kuk, yaitu pelajaran untuk memikul salib atau pelajaran untuk mengendalikan diri sehingga dapat hidup menurut Roh. Adalah suatu beban yang tidak berat bila kita mau datang dengan sukarela dan percaya kepadaNya. Jiwa kita akan menjadi tenang, karena semua persoalan hidup sudah dipercayakan kepada Tuhan dan  percaya bahwa Tuhan akan mengatur segalanya.. Maka tidak ada lagi perasaan kuatir dalam hati dan tidak ada ambisi untuk melakukan segala sesuatu yang diluar kemampuan diri sendiri. Sehingga mampu hidup dengan mengikuti aliran nasib yang telah ditentukan Tuhan. Dalam hal ini bukan berarti bisa bermalas-malasan dan hanya menerima nasib saja, melainkan sebaliknya harus aktif dan rajin bekerja serta mengusahakan pekerjaan itu sebaik-baiknya dan memandang pekerjaan yang kita lakukan itu sebagai suatu persembahan yang memuliakan nama Tuhan Yesus.
Jiwa yang tenang adalah hati yang dipenuhi sukacita damai sejahtera, yang berarti pula telah menemukan harta yang terpendam atau mendapatkan mutiara yang berharga  seperti di dalam perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus (Mat.13:44-46). Orang yang demikian adalah orang yang telah menemukan kebenaran Kerajaan Allah (Mat.6:33).

Mat. 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mat.13:44-46 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."


Prinsip ke dua adalah Hidup Sehari Saja.
 
Mat.6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.  (Mat.6:34)

Dengan perkataan ini Tuhan Yesus mengajarkan agar tidak berpikir melantur tentang segala sesuatu yang belum diketahui. Bilamana menemukan suatu masalah atau kesulitan haruslah berpikir cukup pada masalah itu saja dan mencari penyelesaiannya, tidak perlu memperpanjangnya dengan pengandaian-pengadaian menurut pikiran / imajinasi sendiri, karena bagaimana yang akan terjadi besok kita tidak tahu dan tidak mempunyai kuasa untuk mengaturnya. Setelah mendapatkan penyelesaian yang terbaik maka harus
dilaksanakan semaksimal mungkin, kemudian menunggu hasilnya dan besok harinya baru dipikirkan lagi bila memang masalahnya belum terselesaikan. 
Banyak orang yang tertipu oleh pikirannya sendiri dan seringkali  suatu masalah menjadi semakin rumit, sehingga harus mengorbankan banyak waktu, biaya dan pikiran yang sebetulnya tidak perlu. Dengan hidup sehari demi sehari maka suatu perkara yang sangat besar bagaimanapun akan dapat terselesaikan dengan mudah, prinsip seperti ini  yang digunakan oleh orang lemah yang  memindahkan barang yang sangat berat, yaitu dengan cara memindahkan barang itu sebagian demi sebagian, sehingga dengan ketekunannya barang dapat dipindahkan tanpa kesulitan yang berarti. Demikian pula halnya dengan persoalan hidup, semua orang yang bersangkutan akan memandang betapa sangat beratnya persoalan hidup yang dihadapinya, tetapi bila ia mau mengerjakannya dengan prinsip ini maka pada waktunya nanti persoalan itu dapat terselesaikan dengan baik.

Banyak orang beriman mengucapkan “Berserah kepada Allah” namun mereka tidak melakukan dua prinsip diatas, sehingga semakin hari menjadi semakin jauh dari Tuhan dan tidak jarang pula yang jatuh ke dalam jerat setan. Mereka meninggalkan Tuhan, bersekutu dengan setan, bahkan ada yang putus-asa dan bertindak nekat membunuh dirinya sendiri. Berserah kepada Tuhan bukanlah sekedar teori atau olah pikir tetapi harus melalui pergumulan iman di dalam praktek kehidupan yang nyata, dimana seorang beriman setelah mengalami pergumulan itu baru akan mengerti, memahami dan menghayati bagaimanakah harus  berserah yang sesungguhnya. Jadi untuk dapat mengerti makna "berserah" seperti yang dimaksud Tuhan, orang beriman harus mengalami dan merasakan terlebih dahulu di dalam hidupnya. Adalah sangat mudah untuk mengucapkan kalimat itu, tapi mengucapkannya dengan mengerti makna yang benar tidak mudah , karena memerlukan banyak pengorbanan, baik uang, waktu maupun perasaan . 


Orang beriman yang mengerti makna berserah dengan benar adalah orang telah menemukan kebenaran Kerajaan Allah, maka ia akan selalu merasakan sukacita damai sejahtera dalam hatinya, dimanapun ia berada dan pada situasi apa saja .