Rabu, 27 Juni 2012

Renungan (12): Berserah

Kalimat ini sangat sering kita dengar diucapkan orang-orang beriman dalam percakapan mereka sehari-hari, baik di gereja maupun di luar gereja, di pasar- pasar, di mal-mal, di jalan atau di tempat-tempat lain. Kadang orang mengucapkan perkataan ini tidak memahami maknanya secara jelas, karena “berserah” sering rancu dengan “pasrah”. Padahal bila kita mau menyelidiki maknanya akan kita temukan perbedaan yang cukup jauh, sehingga dalam memahami kalimat “Berserah kepada Allah” mempunyai pengertian yang tepat dan jelas sesuai dengan yang dimaksud dengan pengajaran Tuhan Yesus.

Berserah adalah kata kerja aktif yang bermakna menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah karena percaya, bahwa Allah akan memeliharanya dan memberikan yang terbaik kepadanya. Sedangkan Pasrah adalah kata kerja pasif yang bermakna menyerahkan segalanya kepada Allah karena ia sudah tidak berdaya lagi, atau telah menyerah kalah, tidak dapat melawan lagi. Didalam kerohanian jelas sekali perbedaannya, berserah adalah tindakan iman yang mempersilahkan Tuhan untuk campur tangan dalam hidupnya, sedangkan pasrah adalah ungkapan yang mencerminkan keputus-asaan, bukan karena iman.

Pengajaran Tuhan Yesus mengenai “Berserah“ dapat kita ketemukan dalam Injil, yang pada dasarnya dapat kita bedakan menjadi dua prinsip, yaitu:

Prinsip pertama adalah Hidup Menurut Roh.

Marilah kepadaku , semua yang letih dan lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikul lah kuk yang kupasang dan belajarlah pada Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban Ku pun ringan.
(Mat.11:28-30)  

Ini adalah perkataan Tuhan Yesus yang dengan terbuka mengajak kita untuk datang dan menyerahkan hidup kita kepadanya, dengan janji akan diberikan kelegaan dan ketenangan hidup. Tetapi yang datang kepadaNya akan diberi beban atau kuk, yaitu pelajaran untuk memikul salib atau pelajaran untuk mengendalikan diri sehingga dapat hidup menurut Roh. Adalah suatu beban yang tidak berat bila kita mau datang dengan sukarela dan percaya kepadaNya. Jiwa kita akan menjadi tenang, karena semua persoalan hidup sudah dipercayakan kepada Tuhan dan  percaya bahwa Tuhan akan mengatur segalanya.. Maka tidak ada lagi perasaan kuatir dalam hati dan tidak ada ambisi untuk melakukan segala sesuatu yang diluar kemampuan diri sendiri. Sehingga mampu hidup dengan mengikuti aliran nasib yang telah ditentukan Tuhan. Dalam hal ini bukan berarti bisa bermalas-malasan dan hanya menerima nasib saja, melainkan sebaliknya harus aktif dan rajin bekerja serta mengusahakan pekerjaan itu sebaik-baiknya dan memandang pekerjaan yang kita lakukan itu sebagai suatu persembahan yang memuliakan nama Tuhan Yesus.
Jiwa yang tenang adalah hati yang dipenuhi sukacita damai sejahtera, yang berarti pula telah menemukan harta yang terpendam atau mendapatkan mutiara yang berharga  seperti di dalam perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus (Mat.13:44-46). Orang yang demikian adalah orang yang telah menemukan kebenaran Kerajaan Allah (Mat.6:33).

Mat. 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mat.13:44-46 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."


Prinsip ke dua adalah Hidup Sehari Saja.
 
Mat.6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.  (Mat.6:34)

Dengan perkataan ini Tuhan Yesus mengajarkan agar tidak berpikir melantur tentang segala sesuatu yang belum diketahui. Bilamana menemukan suatu masalah atau kesulitan haruslah berpikir cukup pada masalah itu saja dan mencari penyelesaiannya, tidak perlu memperpanjangnya dengan pengandaian-pengadaian menurut pikiran / imajinasi sendiri, karena bagaimana yang akan terjadi besok kita tidak tahu dan tidak mempunyai kuasa untuk mengaturnya. Setelah mendapatkan penyelesaian yang terbaik maka harus
dilaksanakan semaksimal mungkin, kemudian menunggu hasilnya dan besok harinya baru dipikirkan lagi bila memang masalahnya belum terselesaikan. 
Banyak orang yang tertipu oleh pikirannya sendiri dan seringkali  suatu masalah menjadi semakin rumit, sehingga harus mengorbankan banyak waktu, biaya dan pikiran yang sebetulnya tidak perlu. Dengan hidup sehari demi sehari maka suatu perkara yang sangat besar bagaimanapun akan dapat terselesaikan dengan mudah, prinsip seperti ini  yang digunakan oleh orang lemah yang  memindahkan barang yang sangat berat, yaitu dengan cara memindahkan barang itu sebagian demi sebagian, sehingga dengan ketekunannya barang dapat dipindahkan tanpa kesulitan yang berarti. Demikian pula halnya dengan persoalan hidup, semua orang yang bersangkutan akan memandang betapa sangat beratnya persoalan hidup yang dihadapinya, tetapi bila ia mau mengerjakannya dengan prinsip ini maka pada waktunya nanti persoalan itu dapat terselesaikan dengan baik.

Banyak orang beriman mengucapkan “Berserah kepada Allah” namun mereka tidak melakukan dua prinsip diatas, sehingga semakin hari menjadi semakin jauh dari Tuhan dan tidak jarang pula yang jatuh ke dalam jerat setan. Mereka meninggalkan Tuhan, bersekutu dengan setan, bahkan ada yang putus-asa dan bertindak nekat membunuh dirinya sendiri. Berserah kepada Tuhan bukanlah sekedar teori atau olah pikir tetapi harus melalui pergumulan iman di dalam praktek kehidupan yang nyata, dimana seorang beriman setelah mengalami pergumulan itu baru akan mengerti, memahami dan menghayati bagaimanakah harus  berserah yang sesungguhnya. Jadi untuk dapat mengerti makna "berserah" seperti yang dimaksud Tuhan, orang beriman harus mengalami dan merasakan terlebih dahulu di dalam hidupnya. Adalah sangat mudah untuk mengucapkan kalimat itu, tapi mengucapkannya dengan mengerti makna yang benar tidak mudah , karena memerlukan banyak pengorbanan, baik uang, waktu maupun perasaan . 


Orang beriman yang mengerti makna berserah dengan benar adalah orang telah menemukan kebenaran Kerajaan Allah, maka ia akan selalu merasakan sukacita damai sejahtera dalam hatinya, dimanapun ia berada dan pada situasi apa saja .

Renungan (11): Perumpamaan-Perumpamaan Tuhan Yesus

Seperti yang sudah kita ketahui dalam Injil, Tuhan Yesus mengajar banyak orang dengan perumpamaan-perumpamaan yang  sangat sulit dimengerti oleh pendengarNya (Mat.13:34-35). Berkenaan dengan itu maka dalam Blog ini saya berusaha untuk memberikan penafsiran yang mungkin akan dapat membantu  saudara seiman untuk memahami ajaran Tuhan Yesus, sehingga dapat menghayati pengajaran Tuhan dan kehendakNya terhadap kita.

Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus banyak kita jumpai didalam Injil Matius, Injil Markus dan dalam Injil Lukas , tapi tidak kita temukan didalam Injil Yohanes. Dalam Injil Matius ada dua puluh enam perumpamaan, dalam Injil Markus ada tujuh perumpamaan, dan dalam Injil Lukas ada tiga puluh dua perumpamaan. Tetapi diantara perumpamaan-perumpamaan dalam Injil-Injil itu terdapat perumpamaan-perumpamaan yang sama, yang kita temukan dalam Injil matius dan Injil Markus dan atau juga Injil Lukas. walaupun demikian tetap saja perumpamaan-perumpamaan itu mendominasi Injil-Injil. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa perumpamaan -perumpamaan Tuhan Yesus merupakan bagian yang sangat penting dalam Injil ( Khabar Gembira).

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapakah didalam khotbah atau pendalaman Alkitab atau dalam buku-buku tafsir theologia sangat jarang diajarkan atau bahkan tidak pernah dibahas , baik didalam kelas atau forum diskusi. Bilamana hal ini (ternyata) benar maka bukankah Gereja sudah mengurangi berita Injil dan menyalahi Alkitab dimana ada tertulis : ” jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini , maka Allah akan mengambil bagian -nya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis didalam kitab ini “ (Why.22:19).

Dan bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan : ”Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini , satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat , sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain , ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; . . .” (Mat.5:18-19).

Perumpamaan dalam Injil Matius :
1. Perumpamaan tentang garam dan terang dunia
2. Perumpamaan tentang hal mengumpulkan harta
3. Perumpamaan tentang hal kekuatiran.
4. Perumpamaan tentang menghakimi.
5. Perumpamaan tentang hal yang kudus dan berharga.
6. Perumpamaan tentang hal pengabulan doa.
7. Perumpamaan tentang jalan yang benar.
8. Perumpamaan tentang hal pengajaran yang sesat. .
9. Perumpamaan tentang dua macam dasar.
10. Perumpamaan tentang hal berpuasa.
11. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul. .
12. Perumpamaan tentang seorang penabur.
13. Perumpamaan tentang lalang diantara gandum. .
14. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi.
15. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga. .
16. Perumpamaan tentang pukat. .
17. Perumpamaan tentang domba yang hilang.
18. Perumpamaan tentang pengampunan.
19. Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur. .
20. Perumpamaan tentang dua orang anak. .
21. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. .
22. Perumpamaan tentang perjamuan kawin. .
23. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara. .
24. Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat.
25. Perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. .
26. Perumpamaan tentang talenta.

Perumpamaan dalam Injil Markus:
1. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul.
2. Perumpamaan tentang seorang penabur.
3. Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran.
4. Perumpamaan tentang biji sesawi.
5. Perumpamaan tentang garam.
6. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.
7. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara.

Perumpamaan dalam Injil Lukas:
1. Perumpamaan tentang orang buta .
2. Perumpamaan tentang pohon dan buahnya.
3. Perumpamaan tentang dua macam dasar.
4. Perumpamaan tentang anak-anak yang duduk di pasar
5. Perumpamaan tentang orang yang berhutang.
6. Perumpamaan tentang seorang penabur.
7. Perumpamaan tentang pelita.
8. Perumpamaan tentang hal mengikut Yesus.
9. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.
10. Perumpamaan tentang hal berdoa.
11. perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul.
12. Perumpamaan tentang kembalinya roh jahat.
13. Perumpamaan tentang pelita tubuh.
14. Perumpamaan tentang kekuatiran.
15. Perumpamaan tentang kewaspadaan.
16. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah.
17. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi.
18. Perumpamaan tentang siapa yang diselamatkan.
19. Perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih.
20 . Perumpamaan tentang hal mengikut Yesus.
21. Perumpamaan tentang domba yang hilang.
22. Perumpamaan tentang dirham yang hilang.
23. Perumpamaan tentang anak yang hilang.
24. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur.
25. Perumpamaan tentang hal hamba dan tuan.
26.  Perumpamaan tentang kedatangan Kerajaan Allah.
27. Perumpamaan tentang hakim yang tak benar.
28. Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai.
29. Perumpamaan tentang unta dan lobang jarum.
30. Perumpamaan tentang uang mina.
31. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.
32. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara.

Dari sekian banyak perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan, sebagian telah diterangkan arti dan maksud perumpamaan itu oleh Tuhan sendiri, sebagian dapat dimengerti dengan menyimpulkannya, dan sebagian lagi masih sulit untuk dimengerti. Tuhan Yesus berfirman bahwa perumpamaan-perumpamaan itu menjadi rahasia bagi mereka yang tidak beriman kepadaNya, tapi murid -murid Nya diberi karunia untuk mengetahui arti perumpamaan-perumpamaan itu (Mat.13:11).

1. Perumpamaan tentang garam dan terang dunia (Mat.5:13-16), perumpamaan ini mengingatkan bahwa sebagai murid Yesus harus memberikan kesaksian hidup yang baik (seperti garam) dan kebaikan yang telah menjadi sifat dasar murid Yesus itu akan menjadi teladan bagi orang-orang disekelilingnya (seperti terang) sehingga Allah dipermuliakan karenanya..

2. Perumpamaan tentang hal mengumpulkan harta (Mat.6:19-24), perumpamaan ini mengajarkan bahwa sedikit atau banyaknya harta yang ada pada kita tidak menjadi dasar agar dapat berbuat baik dan memberikan kesaksian hidup yang baik.  Karena pada keadaan kekurangan orang dapat memberikan kesaksian hidup yang baik dari kekurangannya, dan orang yang banyak harta belum tentu dapat menggunakannya untuk memberi kesaksian hidup yang baik.  Jadi baik orang yang kekurangan atau yang berkelimpahan mempunyai kesempatan yang samauntuk  memberikan kesaksian hidup yang baik.
Orang beriman yang mempunyai kesaksian hidup yang baik dikatakan sebagai orang yang mempunyai mata yang baik, dan menjadikan matanya sebagai pelita agar dapat sampai kepada Allah.

3. Perumpamaan tentang hal kekuatiran (Mat.6:25-34), perumpamaan ini mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup, kita harus berpegang pada iman bukan pada harta dunia. Dengan berpegang pada iman maka segala kesusahan yang kita hadapi dapat kita jalani dengan lebih mudah dan ringan, sehingga dalam keadaan apapun masih ada sukacita damai sejahtera dalam hidup kita, keadaan demikian yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa kita telah menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya. Karena Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran , damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus  (Rm.14:17).

4. Perumpamaan tentang hal menghakimi (Mat.7:1-5), perumpamaan ini mengingatkan kita agar  selalu instrospeksi diri dan tidak munafik. Menjauhkan diri dari perasaan paling pintar, paling benar, paling suci, dan paling berkuasa. Bila tidak demikian maka kita tidak akan dapat menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya itu.

5. Perumpamaan tentang hal yang kudus dan berharga (Mat.7:6), perumpamaan ini memberi peringatan kepada kita bahwa janganlah mengajarkan hal Kerajaan Allah kepada orang munafik, yaitu orang yang tampil sebagai orang yang baik dan beriman tetapi dengan tersembunyi tidak segan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, ibarat anjing yang kesukaannya memakan muntahannya sendiri dan memakan bangkai yang sudah berbau busuk. Dan orang yang hidup didalam dosa, yaitu orang yang secara terbuka melakukan perbuatan-perbuatan jahat tanpa malu,  ibarat babi yang kesenangannya berkubang dalam lumpur.

6. Perumpamaan tentang hal pengabulan doa (Mat.7:7-11), perumpamaan ini mengajarkan agar kita senantiasa berdoa kepada Allah supaya diberikan sukacita damai sejahtera yang dari sorga. Tetapi orang banyak sudah salah mengartikan pengajaran Tuhan ini, sehingga dalam doa mereka selalu berisi permintaan-permintaan untuk memuaskan keinginan dagingnya, mereka berdoa meminta berkat dunia, meminta jodoh, meminta anak, dan meminta lain-lain yang sifatnya duniawi, sehingga permintaan doa mereka tidak dikabulkan.
Semua yang bersifat duniawi sudah ditentukan Allah Bapa dan sudah diberikan kepada kita menurut kerelaan Nya, kita hanya mengusahakannya saja. Lebih dari pada itu Tuhan menginginkan kita meminta hal-hal yang bersifat rohani yang berguna bagi pertumbuhan iman kita, yaitu Roh Kudus (Luk.11:13).

7. Perumpamaan tentang jalan yang benar (Mat.7:12-14), perumpamaan ini mengajarkan agar kita tidak hidup menuruti keinginan daging melainkan keinginan Roh, sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh , memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Rm.8:5-6). Jadi jalan melalui pintu yang lebar dan luas adalah hidup menurut daging sedangkan pintu yang sempit dan sesak adalah hidup menurut Roh.

8. Perumpamaan tentang hal pengajaran yang sesat (Mat.7:15-23), perumpamaan ini memperingatkan kita bahwa beriman bukan hanya percaya, tetapi harus dengan kesaksian hidup yang baik  atau mempunyai buah yang baik. Banyak orang beranggapan bahwa dengan beribadah dan mengikuti kegiatan di gereja, Tuhan berkenan kepadanya. Bila sudah menjadi majelis di gerejanya, Tuhan sudah berkenan kepadanya. Dan bila menjadi pendeta atau gembala jemaat, Tuhan berkenan kepadanya. Anggapan seperti itu adalah anggapan yang keliru, karena Tuhan mengatakan bahwa “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat.7:22-23).

9. Perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat.7:24-27), perumpamaan ini memberitahukan bahwa  beriman kepadaNya dengan diiringi kesaksian hidup yang baik  adalah ibarat mendirikan rumah diatas batu, yang tidak akan jatuh oleh angin pencobaan dan roboh oleh banjir berkat duniawi. Dan orang beriman yang mempunyai kesaksian hidup yang baik dikatakan Tuhan Yesus sebagai orang bijaksana yang akan mendapat tempat di dalam Kerajaan Allah.

10. Perumpamaan tentang hal berpuasa (Mat.9:14-17), perumpamaan ini menerangkan bahwa pengajaran Taurat (PL) dan pengajaran Injil (PB) mempunyai kebenarannya sendiri pada masanya. Puasa dalam pengajaran Yohanes Pembaptis adalah untuk membersihkan diri dari dosa, sedangkan puasa dalam pengajaran TuhanYesus adalah untuk mengalahkan kuasa setan dan menerima kuasa Roh Kudus. Dengan demikian adalah tidak mungkin untuk mencampurkan atau menggabungkan dua pengajaran itu, bila dilakukan akan merusakan pengajaran yang lama karena pengajaran PL merupakan gambaran atau sketsa kehendak Allah Bapa. Sedangkan pengajaran Tuhan dan perbuatanNya adalah penggenapan kehendak Allah Bapa. Puasa dalam kenyataannya tidak mungkin dapat menghilangkan dosa manusia, melainkan menjadi simbol hidup dengan menahan hawa nafsu duniawi atau keinginan daging. Kebenarannya adalah bahwa dosa hanya dapat dibersihkan oleh darah Yesus yang tercurah diatas kayu salib melalui iman. Dalam hal ini Tuhan Yesus telah menggenapi pengajaran Yohanes Pembaptis.

11. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul (Mat.12:22-37), dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk percaya bahwa kuasa Roh Kudus  dinyatakan oleh Tuhan Yesus dan kemudian oleh hamba-hambaNya. Dengan mempercayai kenyataan itu maka selanjutnya harus mendengarkan firman apa yang disampaikan kepada kita dan hidup menurutiNya. Bila kita tidak bisa percaya dan menuding kuasa Roh Kudus itu sebagai kuasa setan, maka itu merupakan hujat bagi Roh Kudus, dan itu menjadi suatu dosa yang tidak dapat diampuni, karena sesungguhnya kita tidak akan pernah bertobat dan melakukan kehendak Tuhan.

12. Perumpamaan tentang seorang penabur (Mat.13:1-23), dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memberitahukan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan mempunyai pertumbuhan iman yang berbeda-beda, bahkan ada yang kemudian mati imannya. Dan pertumbuhan imannya itu dapat kita ukur dari seberapa sempurna/ matang buahnya itu, yaitu seberapa banyak karakter dari buah Roh itu nyata dalam hidupnya. Karakter dari buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri (Gal.5:22). Jadi pada akhir hidup kita, ketika dipanggil Tuhan, masing-masing kita akan mempunyai raport sendiri-sendiri yang merupakan hasil pelajaran kita mengikut Tuhan Yesus. Yang imannya mati adalah mereka yang meninggalkan Tuhan dan yang imannya tidak bertumbuh adalah mereka yang masih hidup dengan cara lama (masih duniawi) .

13. Perumpamaan tentang lalang diantara gandum (Mat.13:24-30; 36-43), perumpamaan ini menerangkan bahwa tidak semua orang yang datang ke gereja dan mengaku beriman kepada Tuhan Yesus mempunyai hati yang tulus, mereka yang tulus oleh TuhanYesus digambarkan sebagai benih gandum , dan kemudian berbuah Roh. Tetapi banyak diantara mereka yang datang ke gereja dengan motivasi lain, ada yang karena ingin menyenangkan pasangan hidupnya, ada yang karena pacarnya, ada yang karena temannya, ada yang karena saudaranya, ada yang karena anaknya, ada yang karena menantunya, ada yang karena mertuanya, ada yang karena ingin mencari jodoh, ada yang karena ingin mendapatkan pekerjaan dan ada yang karena ingin mendapatkan bantuan atau materi dan lain-lain. Orang yang demikian digambarkan sebagai benih ilalang, mereka tidak akan berbuah Roh.

14. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (Mat.13:31-35), perumpamaan ini menerangkan bahwa pertumbuhan Kerajaan Allah mulai dari satu orang yaitu Yesus, yang bertumbuh dan memenuhi seluruh bumi, seperti biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar. Dan orang tidak menyadari perkembangan Kerajaan Allah seperti halnya perkembangan ragi dalam adonan tepung, tahu-tahu sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Orang juga tidak menyadari bilamana mereka mulai beriman kepada Tuhan Yesus.

15. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga (Mat.13:44-46), perumpamaan ini menerangkan bahwa seorang yang menemukan sukacita damai sejahtera dari Kerajaan Allah tidak lagi mengganggap penting harta dan semua yang dimilikinya, ia lebih menghargai hal rohani dibanding hal duniawi. Karena Kerajaan Allah adalah tentang hal rohani yaitu tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh kudus(Rm.14:17).

16. Perumpamaan tentang pukat (Mat.13:17), perumpamaan ini memberitahukan  bahwa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tetapi tidak berpikiran rohani dianggap sebagai orang jahat. Dan ahli Taurat atau orang yang berpikiran duniawi tidak akan mengerti pengajaran Kerajaan Allah, karena mereka menganggapnya sebagai hal baru yang sulit mereka terima.

17. Perumpamaan tentang domba yang hilang (Mat.18:12-14), dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memberitahukan bahwa satu jiwa yang dapat diselamatkan sangat berharga dimata Allah. Karena Allah menginginkan semua orang yang percaya dapat diselamatkan dan memperoleh hidup kekal didalam KerajaanNya (Yoh.3:16). Dan mereka yang tidak percaya tidak diperhitungkan Allah sebab mereka tidak dikenalNya (Mat.7:23).

18. Perumpamaan tentang pengampunan (Mat.18:21-35), perumpamaan ini menggambarkan begitu besar kasih Allah kepada manusia dan menyuruh kita mengasihiNya pula, yaitu dengan mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri. Adalah tiada batas pengampunan seseorang kepada sesamanya, karena selama ada kasih didalam diri manusia, maka akan dapat mengampuni saudaranya dengan tulus hati dan tanpa batas.  Tetapi bila tiada kasih maka pengampunan yang diberikan hanya sebatas dibibir saja.

19. Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Mat.20:1-16), perumpamaan ini menggambarkan kemurahan Allah yang sifatnya mutlak / absolut, kita tidak bisa memprotesNya, apalagi mau mengaturNya. Bahwa setiap orang yang karena nama Yesus meninggalkan semua miliknya maka Tuhan akan menggantinya seratus kali lipat dan juga memberi  hidup kekal, tanpa membeda-bedakan/ memperhitungkan berapa lama mereka mengikutiNya. Karena Allah memberikan hidup kekal kepada mereka pada akhir hidupnya, maka seorang yang mengikut Tuhan sejak masih muda akan menerima upah (hidup kekal) lebih kemudian dari pada yang mengikut Yesus ketika sudah berumur. Tetapi mempunyai kesempatan / waktu lebih banyak untuk melatih dirinya menjadi  sempurna,  dalam iman dan kasih pada sesamanya.

20. Perumpamaan tentang dua orang anak (Mat.21:28-32), perumpamaan ini mengajarkan bahwa sebagai orang yang beriman tidak boleh berlaku munafik, mengaku percaya kepada Yesus tetapi tidak hidup menurut firmanNya. Rajin menghadiri kebaktian di gereja dan menghafal Firman Tuhan tetapi kesaksian hidup dan tabiatnya masih sama dengan hidup manusia lamanya. Karena iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yak.2:20).

21. Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mat.22:1-14), perumpamaan ini mengajarkan bahwa untuk masuk kedalam Kerajaan Allah harus mengenakan pakaian yang indah, yaitu kesucian diri yang merupakan hasil dari iman yang diiringi dengan kebajikan. Semua orang dipanggil masuk kedalam Kerajaan Allah tetapi sedikit yang mendapatkannya, karena banyak orang berimantetapi masih hidup dengan  melayani keinginan dagingnya, tidak hidup menurut Roh.

22. Perumpamaan tentang kedatangan Anak Manusia-Perumpamaan tentang pohon ara (Mat.24:29-36), perumpamaan ini memberitahukan tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua, yaitu masa dimana banyak penderitaan dan dunia kacau, tetapi kuasa Kerajaan Allah dinyatakan dengan serentak diseluruh penjuru bumi. Banyak orang beriman dimana-mana melakukan perbuatan ajaib dengan kuasa Roh Kudus (Mat.24:15-28). Setelah itu akan banyak orang-orang beriman yang mencapai kesempurnaan imannya, dan ketika Tuhan Yesus datang banyak orang-orang beriman itu diangkat secepat kilat dan bertemu dengan Tuhan Yesus diudara, seperti burung nazar mengerumuni yang bangkai. Bila ada dua orang atau lebih sedang bekerja atau sedang bersekutu, diantara mereka ada yang diangkat dan lainnya yang tertinggal hanya menyaksikannya. Kejadian itu datangnya sangat tiba-tiba dan tidak terduga, seperti kedatangan pencuri atau kilat, sehingga kita harus mempersiapkan diri senantiasa selagi masih ada waktu untuk menyambut kedatanganNya (Mat.24:37-44).

23. Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat (Mat.24:45-51), perumpamaan ini mengingatkan kepada hamba-hamba Tuhan bahwa hamba yang setia adalah mereka yang menggembalakan domba-dombaNya dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Dan ketika kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua ia akan mendapatkan tempat yang mulia dalam KerajaanNya.
Sedangkan hamba yang jahat adalah mereka yang menggembalakan domba-dombanya dengan berlaku sebagai penguasa yang mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri dan hanya memikirkan kepuasan nafsu dagingnya saja.

24. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Mat.25:1-13), perumpamaan ini mengingatkan agar kita senantiasa memberikan kesaksian hidup yang baik (pelita) dan hidup menurut Roh Kudus (buli-buli minyak), hal ini dapat sangat efektif bila kita mempraktekkan karunia Bahasa Roh dalam doa penyembahan setiap hari. Karena karunia ini diberikan Tuhan Yesus kepada orang beriman yang berguna untuk membangun iman orang itu sendiri    (1 Kor.14:4).`

25. Perumpamaan tentang talenta (Mat.25:14-30), perumpamaan ini berbicara tentang pelayanan dengan kuasa Roh Kudus. Masing-masing hamba Tuhan mendapatkan Karunia (talenta) yang jumlahnya berbeda-beda menurut seberapa besar kesanggupan hamba Tuhan itu menyerahkan hidupnya. Yang paling besar adalah mau menyerahkan hidup seutuhnya bagi Tuhan, dalam arti tidak menikah bagi Tuhan (Rm.12:1). Mereka yang diberi kuasa yang besar akan mendapat tugas yang besar, dan yang diberi kuasa sedang akan mendapat tugas yang sedang, tetapi yang paling sedikit mendapat tugas  untuk bersaksi. Yang mendapat kuasa yang besar dan kuasa yang sedang dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dipuji Tuhan,  sedangkan yang mendapat tugas hanya bersaksi tidak menjalankannya dengan baik. Maka yang terakhir ini akan dianggap sebagai hamba yang jahat dan malas. Disamping itu keselamatan yang telah diberikan kepadanya akan diambil dari padanya pula.

26. Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran (Mrk.4:21-25), perumpamaan tentang pelita berbicara tentang kesaksian hidup yang baik dan pembukaaan Firman Tuhan, dimana kedua hal itu tidak mungkin dapat disembunyikan atau dirahasiakan  untuk dinikmati  sendiri saja. Karena Tuhan Yesus berfirman:”Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8).
Sedangkan perumpamaan tentang ukuran berbicara tentang kesanggupan dan kesungguhan untuk hidup menurut kehendak Tuhan Yesus. Bagi mereka yang mau dan sanggup menyerahkan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan akan dipercayakan sesuai dengan kesanggupannya itu.

27. Perumpamaan tentang orang buta / hal menghakimi (Luk.6:37-42), perumpamaan ini memperingatkan bahwa apabila kita tidak melakukan atau mempraktekan firman yang kita peroleh, jangan sekali-kali mengajarkannya kepada orang lain, karena firman Tuhan tanpa dilakukan akan menjadi teori saja. Dan pada akhirnya hanya akan menjadikan orang-orang munafik, yang diluar terlihat beriman dan baik tetapi dengan sembunyi-sembunyi masih suka melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang dimurkai Tuhan.

28. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Luk.13:6-9), perumpamaan ini memperingatkan para pemimpin atau hamba Tuhan di dalam gereja, bahwa apabila mereka tidak berbuah Roh maka dirinya tidak akan mendapat tempat di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian berarti keselamatan diberikan kepada kita tidak hanya dengan percaya saja, tetapi juga harus dengan diiringi pembaharuan diri (hidup baru). Ini sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus bahwa orang diselamatkan karena iman bukan karena perbuatan baik ( Rm.3:28  Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Dan Ef.2:8  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu , tetapi pemberian Allah.) dan pengajaran Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yak.2:20) dan (Yak.2:22) . . . , bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna

29. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Luk.16:1-9), perumpamaan ini mengajarkan agar kita tidak cinta uang, melainkan menggunakan uang  untuk berbuat kebaikan . Adalah suatu sikap yang bijak bila kita bisa menggunakan uang untuk menolong orang dan menumbuhkan iman, karena banyak orang yang hatinya kemudian melekat pada uang dan menjadi kikir.  Perpuluhan adalah pengajaran gereja untuk melatih jemaat untuk tidak cinta uang, tapi sayang kemudian terjadi pergeseran dan penyelewengan dari ajaran ini, dan menjadi ajarantentang teologi kemakmuran, yang bertentangan dengan pengajaran Injil.  Dan ironisnya Tuhan sudah memperingatkan dengan perumpamaan dalam Injil Lukas, (Luk.6:39) Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh kedalam lobang?

30. Perumpamaan tentang hakim yang tak benar (Luk.18:1-8), perumpamaan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak berhenti berdoa meminta pertolongan Tuhan ketika kita berada dalam kesusahan, apapun bentuknya. Karena Tuhan Yesus menjamin bahwa Allah pasti akan menolong kita tepat pada waktunya.
Luk.18:7 Tidakah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang-malam berseru kepadaNya? Dan adakah ia mengulur-ulur waktu sebelum menolongnya?

31. Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai (Luk.18:9-14), perumpamaan ini mengajarkan bahwa seseorang yang menyesali kesalahannya dan merendahkan diri dihadapan Tuhan akan dibenarkanNya, sebaliknya Tuhan tidak berkenan kepada mereka yang merasa benar dan merasa sudah melakukan perintahNya tetapi tidak pernah bertobat dengan sungguh-sungguh.
Hampir semua orang berlaku seperti orang Farisi, merasa paling rohani, paling baik, paling benar, paling pintar, paling tahu dan paling segalanya, tetapi  tidak  mengalami hidup baru, tidak mengalami pembaharuan diri, masih menggunakan tabiat lamanya, masih sama seperti sebelum bertobat.

Dari semua uraian tentang perumpamaan-perumpamaan diatas dapat disimpulkan bahwa Tuhan Yesus menghendaki semua orang yang beriman kepadaNya dapat diselamatkan dan mendapat hidup yang penuh sukacita damai sejahtera dari sorga,  sejak masih ada di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal di dalam Kerajaan Sorga. Untuk itu maka Tuhan telah memberikan sarana dan prasarana agar tujuan itu tercapai, yaitu gereja dan Roh Kudus beserta karunia-karunia Roh Kudus.

Gereja adalah sarana yang disediakan Tuhan bagi jemaatnya agar masing-masing orang beriman dapat mengasah kasih diantara sesamanya (Ams.27:17).

Roh Kudus adalah Roh penolong , Roh pembimbing dan Roh penghibur yang diberikan sebagai sarana bagi setiap orang yang beriman, untuk mengajarkan kepadanya akan segala sesuatu dan mengingatkannya akan firman Tuhan (Yoh.14:26).

Karunia Roh Kudus adalah prasarana yang terdiri dari sembilan karunia (1Kor.12:8-10) yang berguna untuk:
1. Membangun gereja, yaitu karunia-karunia yang berfungsi untuk penginjilan, yaitu Karunia kesembuhan, Karunia mujizat, Karunia membedakan roh; dengan karunia-karunia ini orang-orang ditarik untuk percaya dan masuk kedalam gereja.
2. Membangun iman orang percaya secara pribadi, yaitu karunia berbahasa Roh, Karunia bernubuat, Karunia iman; dengan karunia-karunia ini orang percaya diberi kemampuan untuk bertumbuh dan mempertahankan imannya.
3. Membangun jemaat, yaitu Karunia bernubuat, Karunia mengartikan bahasa Roh, Karunia hikmat, Karunia berkata-kata dengan pengetahuan; dengan karunia-karunia ini jemaat diberi pelajaran , bimbingan , teguran, penghiburan dan perintah oleh TuhanYesus sehingga iman jemaat disegarkan dan ditumbuhkan.

Renungan (10): Pernikahan

Perkawinan dalam perspektif Kristen mempunyai kekhususan  tersendiri, karena perkawinan menurut perspektif kristen merupakan dispensasi / kelonggaran yang diberikan Tuhan kepada orang beriman, perkawinan bukan merupakan perintah Allah yang selama ini dipahami oleh orang kebanyakan,  yang  menggunakan dasar ayat -ayat Perjanjian Lama (Kej.1:28; 9:1; 35:11) Karena Perjanjian Lama adalah  hanya gambaran dari kehendak dan rencana Allah terhadap umat Nya. Penggambaran tentang beranak cucu sebenarnya lebih bersifat rohani, dimana Allah menghendaki setiap orang beriman untuk mempunyai keturunan rohani, anak rohani dan cucu rohani. Perkawinan tidak dilarang dengan pertimbangan bahwa bila tidak kawin dapat terbakar oleh hawa nafsunya sendiri (1Kor7:9) yang akan mematikan rohani orang beriman. Sedangkan kehendak dan rencana Nya adalah supaya manusia dapat menguduskan dirinya dan menjadi sempurna seperti Dia, sehingga bisa hidup bahagia bersamaNya dalam Kerajaan Sorga. Maka hukum yang berlaku adalah perkataan Yesus :“Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia”(Mat.19:6), karena hanya maut atau kematian yang dapat memisahkan mereka dari pasangannya.

Tuhan Yesus jelas tidak menentang perkawinan, tetapi Ia tidak memberikan sedikit celah pun untuk bercerai bagi perkawinan orang-orang beriman. Sehingga apabila dikemudian hari pasangan itu ada masalah atau ketidak-cocokan diantara mereka, maka mereka harus mau saling mengoreksi diri dan menerima kekurangan pasangannya agar mereka dapat hidup bahagia dan membahagiakan pasangannya. Dalam hal ini jelas pengajaran yang diberikan oleh Tuhan kepada orang beriman, yaitu biarpun mereka tidak dapat memenuhi kehendak Allah secara maksimal, tetapi mereka diharapkan dapat mengalami pertumbuhan iman bersama pasangannya,  sehingga mereka dapat memperoleh keselamatan yang dijanjikan Allah. Bilamana pasangannya meninggal,  yang masih hidup memperoleh kebebasan sebagai orang merdeka. Dan ia bebas memilih apakah hendak mencari pasangan lagi, atau hidup mensucikan diri bagi Allah. Kepada mereka yang mencari pasangan lagi maka hukum yang berlaku adalah “Setiap orang yang menceraikan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah” (Luk.16:18). 

Hukum diatas hanya berlaku bagi orang-orang beriman, dan tidak berlaku bagi orang yang tidak beriman. Bila seorang tidak beriman bercerai dari pasangannya, kemudian ia mengikut Yesus, maka ia dianggap sebagai orang baru dan masa lalunya tidak diperhitungkan. Karena segala dosa dan kesalahannya sudah ditebus oleh kematian dan darah Yesus. Ia bebas kawin dengan pasangan yang dipilihnya.

Jika ada pasangan yang karena sesuatu hal kemudian memutuskan untuk berpisah, maka masing-masing tidak diperbolehkan mencari pasangan lain sebagai penggantinya, selama pasangannya masih hidup.Jika seorang beriman ditinggal mati oleh pasangannya dan mempunyai anak yang masih belum dewasa, maka sebaiknya ia menunda perkawinannya sampai anaknya mandiri, karena anak itu masih menjadi tanggung-jawabnya dan berhak mendapat pemeliharaan dari orang tuanya yang masih hidup. 
Jika seorang tidak beriman yang mempunyai istri lebih dari satu, kemudian percaya kepada Yesus maka ia wajib untuk meninggalkan semua istrinya dan hidup dengan istri yang pertama saja. 
Jika istri yang pertama tidak mau percaya kepada Yesus dan ada diantara istrinya yang percaya kepada Yesus, maka istrinya yang beriman itu boleh menjadi pasangan hidupnya . 
Jika ada lebih dari satu istrinya yang mau beriman kepada Yesus, maka yang menjadi pasangan hidupnya adalah istri yang lebih tua. Sedangkan istri yang diceraikan bebas untuk mencari pasangan hidupnya menurut hukum diatas. 
Demikianlah perkawinan menurut Tuhan Yesus, maka murid-muridNya memilih untuk tidak kawin saja (Mat.19:10).Tetapi menurut Tuhan Yesus orang yang tidak kawin ada tiga sebab, tetapi satu yang dikehendaki Tuhan Yesus, yaitu tidak kawin karena Kerajaan Allah. 
Injil Matius mencatat perkataan Tuhan Yesus didalam pasal 19:12, yang berbunyi:“… Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga.”

Orang yang tidak dapat kawin karena mempunyai cacad pada alat reproduksinya sejak dari lahir, jelas orang demikian tidak mungkin dapat memilih pasangannya, karena tidak akan ada yang mau mengawininya atau dikawininya.

Orang yang tidak dapat kawin karena orang lain, banyak yang menyebabkannya antara lain, karena dikebiri orang lain (hal ini terjadi pada jaman kerajaan, dimana pelayan-pelayan laki-laki di istana raja harus dikebiri, untuk menghindari perjinahan didalam istana, karena raja mempunyai bayak selir). Atau karena terjadi kecelakaan yang menyebabkan alat reproduksinya rusak. Atau karena penyakit yang merusak alat reproduksinya. Atau karena tidak ada yang mau kawin dengannya.

Orang yang tidak kawin karena Kerajaan Sorga, adalah orang yang karena imannya memilih untuk tidak kawin dan menyerahkan hidupnya seutuhnya kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup dan menjadi pelayan /hamba Tuhan.

Pada beberapa abad awal kekristenan  ayat diatas  telah disalah tafsirkan oleh beberapa orang beriman, mereka mengamalkan ayat ini dengan melakukan praktek mengebiri diri sendiri. Tindakan demikian terlalu naif, orang yang mengamalkan ayat di atas itu keliru, karena yang dikehendaki Tuhan adalah kesucian hati bukan perbuatan pengebirian diri. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan didalam Perjanjian Lama dengan perintah sunat, yang menjadi tanda bagi bangsa Israel untuk mengingatkan mereka pada perintah Allah agar  mereka tidak melakukan perbuatan zinah. Seorang yang tidak kawin atau yang dikebiri sekalipun bila hidupnya tidak mengalami pembaharuan diri,  keberadaannya tidak akan diperhitungkan  Allah, karena ia dipandang Tuhan sebagai seorang jahat yang harus mendapatkan hukuman kekal. Karena yang dinilai Nya adalah buah Roh yang dihasilkan imannya, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal.5:22 ).

Seorang yang mempunyai Kasih maka : Ia harus orang yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak megahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1Kor.13:4-7).

Seorang yang mempunyai sukacita, adalah orang yang menjalani hidup dengan hati yang gembira, bergairah, peramah dan murah senyum, dimana ia menjalani hidupnya dengan ringan tanpa tekanan yang berarti, dan tidak merasakan beban yang terlalu berat.

Seorang yang mempunyai damai sejahtera , adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang diperolehnya sebagai berkat dari Tuhan, tidak ambisius, tidak serakah, dan jiwanya selalu dalam keadaan tenang .

Seorang yang mempunyai kesabaran adalah orang yang selalu dapat menunggu segala sesuatu, dapat mengerti kelemahan orang lain dan mempunyai persediaan maaf yang tidak terbatas.

Seorang yang mempunyai kemurahan adalah orang yang selalu mau memberi kepada orang lain, baik waktu, harta benda, maupun hidupnya sekalipun.

Seorang yang mempunyai kebaikan adalah orang yang selalu melakukan segala sesuatu demi kepentingan orang lain dan kebaikan bersama.

Seorang yang mempunyai kesetiaan adalah orang yang tidak mudah berubah pikiran dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah diucapkannya sesuai dengan kata hati nuraninya.

Seorang yang mempunyai kelemahlembutan adalah orang yang memperlakukan orang lain dengan penuh kasih dan penuh perhatian.

Seorang yang mempunyai penguasaan diri adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain dan tidak melakukan segala sesuatu yang dibenci Tuhan.

Renungan (9): Mimpi, Penglihatan, nubuat dan Pembukaan Firman

Mimpi merupakan pengalaman hidup manusia yang sudah umum diketahui oleh semua orang, dan sering disebut orang sebagai “bunga orang tidur”, dan orang yang berangan-angan untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, juga dikatakan sebagai “mimpi di siang bolong.” Tetapi yang dimaksud dengan ‘mimpi’ disini adalah mimpi yang merupakan pesan firman dari Tuhan.
Seorang beriman yang berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan sering mendapat jawaban lewat mimpi, dalam hal ini orang yang bersangkutan mengerti maksud dari jawaban Tuhan itu. Tetapi bila ia tidak mengerti makna mimpi itu ia hendaknya berdoa kembali untuk meminta petunjuk dari Tuhan atau mencari orang yang mempunyai karunia bernubuat untuk meminta tolong kepadanya menanyakan makna mimpi itu kepada Tuhan Yesus.


Kej.20:3  Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.”


Bil.12:6  Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.


Yl. 2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.


Mat. 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.


Penglihatan terjadi disaat seorang beriman sedang berdoa dan menyembah Tuhan, dimana pada saat ia sedang khusuk menyembahNya, dalam benaknyamuncul sebidang layar putih seperti layar biokop dan pada layar itu timbul  gambar. Orang yang bersangkutan biasanya langsung mengerti makna gambar penglihatan itu.
Perbedaannya dengan mimpi adalah bahwa mimpi terjadi pada saat seseorang sedang tertidur sedangkan penglihatan terjadi pada saat seseorang sedang dalam keadaan khusuk sembahyang. Dan biasanya mimpi merupakan gambar hidup (bioskop) yang tidak berwarna, hanya hitam-putih saja, sedangkan penglihatan merupakan gambar tunggal (slide) yang berwarna-warni.
Kej. 15:1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”
Why. 9:17 Maka demikianlah aku melihat dalam penglihatan ini kuda-kuda dan orang-orang yang menungganginya; mereka memakai baju zirah, merah api dan biru dan kuning belerang warnanya; kepala kuda-kuda itu sama seperti kepala singa, dan dari mulutnya keluar api, dan asap dan belerang.


Nubuat adalah firman Tuhan yang disampaikanNya kepada satu orang saja atau banyak orang melalui mulut seorang yang mempunyai karunia bernubuat. Firman itu berisi pengajaran, penghiburan, atau teguran kepada orang lain atau kepada diri orang yang bernubuat itu sendiri. Nubuat terjadi di persekutuan orang beriman, atau disaat ia sedang sembahyang sendiri di kamarnya.


1 Kor.14:3  Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.


Pembukaan firmanadalah pencerahan terhadap firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Seorang yang mendapatkan pembukaan firman ia seperti dibukakan pikirannya sehingga mengerti maksud firman yang dibacanya atau yang diingatnya, dan firman itu seperti menunjuk langsung pada dirinya agar ia memperhatikannya. Dalam hal ini firman itu adalah Tuhan sendiri yang berbicara langsung kepadanya, untuk menghibur, menguatkan, mengajar, memerintah, atau menegur.
Makna firman itu dimengertinya tidak melalui proses berpikir dalam otaknya, tetapi dengan begitu saja ia langsung tahu apa yang dimaksudkan dari firman itu. Pengertian yang diperolehnya itu diluar pemikiran otak manusia tetapi bila ditelaah lebih dalam ternyata kemudian nampak kebenarannya, yang tidak terbantahkan. Hasil pengertian itu bersifat baku, dalam arti pengertian itu tidak pernah berubah selamanya dan kemudian membentuk susunan yang saling mendukung dan kompak serasi dengan pembukaan firman yang diperolehnya kemudian.


Pembukaan firman  yang diperoleh oleh seorang dengan seorang yang lain tidak pernah mempunyai makna yang saling bertentangan, biarpun pengertian itu diperoleh seseorang yang hidup pada jaman yang berjarak sampai ratusan tahun bahkan sampai ribuan tahun lamanya sekalipun. Perbedaan terjadi karena adanya interfensi dari kepentingan (ego) orang yang bersangkutan, dalam hal ini jelas pembukaan firman yang diperolehnya bukan dari Tuhan melainkan dari dirinya sendiri.
Untuk mengetahui suatu pembukaan itu benar dari Tuhan atau bukan, maka yang dapat dilakukan adalah diuji dengan firman Tuhan yang ada dalam Alkitab. Bila senafas dan tidak bertentangan maka pembukaan firman itu tentu benar adanya.


Dan cara lain untuk menguji apakah mimpi , penglihatan, nubuat, dan pembukaan firman itu benar dari Tuhan Yesus atau bukan, adalah dengan ‘melupakannya’; dengan berlalunya waktu, mungkin sampai beberapa hari atau beberapa minggu, atau beberapa bulan, atau beberapa tahun, bila pembukaan firman yang diperolehnya bukan dari Tuhan Yesus maka ia akan segera melupakannya; tetapi bila itu dari padaNya maka firman itu akan terus mengejarnya; firman itu akan terngiang-ngiang terus dalam benaknya, tidak dapat dilupakannya sampai orang itu mau memperhatikannya, makin lama tuntutan firman itu tidak menjadi melemah tetapi semakin lama semakin kuat, dan memaksanya untuk memperhatikan dan meresponnya.
Sebagai contoh kejadian seperti ini dapat kita membaca pengalaman nabi Yunus.


Yun.1:1-4:11 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”
……………………………………………………Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Renungan (8): Hidup Menurut Roh

Rm.8:4-6  supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.


Hidup menurut Roh mempunyai banyak istilah yang maknanya sama, antara lain: hidup oleh iman, hidup oleh Roh, hidup dipimpin oleh Roh, hidup baru, hidup menurut kehendak Allah, atau hidup menurut perintah Allah; tetapi perlu penjelasan tentang apa yang dimaksudkannya itu. Hidup menurut Roh adalah suatu cara hidup yang lebih menggunakan iman, sehingga seseorang akan hidup menurut tuntunan Roh Kudus yang datang kepadanya, tuntunanNya itu biasanya disampaikan melalui pembukaan firman, nubuat, mimpi dan penglihatan. Ketika ia mendapatkannya, ia segera tahu bahwa itu firman Tuhan dan tanpa keraguan segera melakukan firman itu yang memberi perintah, nasihat, pengajaran, penghiburan atau teguran kepadanya.


Rm.1:17  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”


Gal.5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,


Rm.6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.


Ptr.4:6  Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.


2Yoh.1:6  Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.


Ay.33:14-16  Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran
Seorang beriman yang diberi pembukaan firman dan mau melakukannya sesuai dengan firman itu akan di bukakan lagi firman yang lain. Semakin rajin ia melakukannya semakin sering diberi firman, ini yang dimaksudkan oleh perkataan Tuhan yesus dalam perumpamaan tentang talenta.


Mat. 25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.


Karena seorang yang diberi pembukaan firman adalah seperti seseorang yang masuk kedalam suatu gedung yang sangat panjang, yang terdiri dari banyak kamar yang bersambungan dan kamar-kamar itu dihubungkan dengan satu pintu yang masih tertutup. Seseorang yang masuk kedalam kamar -kamar itu harus mulai dari kamar pertama; untuk masuk kamar ke dua harus melalui kamar pertama, dan untuk masuk kamar yang ke tiga harus melalui kamar ke dua, demikian secara berturut-turut sampai pada kamar yang terdalam.


Pembukaan firman yang diberikan kepadanya ibarat pintu kamar pertama yang dibukakan, bilamana ia mau melakukannya, ia sama dengan melangkahkan kakinya memasuki kamar pertama itu. Ketika ia melangkahkan kakinya sampai di depan pintu kamar ke dua, ia akan diberi pembukaan yang ke dua, demikian seterusnya ia akan diberikan pembukaan firman yang ke tiga dan pembukaan firman selanjutnya.


Mazmur Daud juga menggambarkan pembukaan firman dengan mengibaratkan pelita yang di pasangkan pada kedua ujung kasut kakinya, bila ia berjalan di dalam gelapnya malam maka sekitar jalan didepannya sejauh satu dua meter akan diterangi tetapi jarak yang lebih jauh masih gelap, demikian setiap ia melangkah maka jalan yang di depannya akan menjadi terang, sehingga ia dapat berjalan dengan selamat sampai tujuan; terhindar dari lobang, genangan air, atau tersandung batu dan ranting yang dapat membuatnya celaka karena jatuh terjerebab.


Maz. 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.


Seiring dengan seringnya ia mendapatkan pembukaan firman dan melakukannya, imannya juga akan bertumbuh sesuai dengan pengetahuannya tentang firman Tuhan dan pembaharuan hidupnya. Ia menjadi manusia baru yang dapat bersyukur dan hidupnya dipenuhi dengan perasaan sukacita dan damai sejahtera. Dalam hidupnya tidak ada lagi perasaan kuatir atau tertekan hal-hal dunia karena seluruh beban hidupnya sudah diserahkannya kepada Tuhan; seperti ajakan yang diserukan Tuhan Yesus dalam Injil:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat.11:28)


Hidup menurut Roh bukan suatu hal yang mudah, karena seseorang yang mau menjalaninya harus meninggalkan semua keinginannya dan lebih mementingkan kehendak Allah; tetapi setelah terbiasa ia akan dapat melakukan semua perintah Tuhan yang datang kepadanya dengan ringan dan senang-hati.
“Pikul lah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat.11:29-30)

Renungan (7): Puasa

‘Berpuasa’ dilakukan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi dan hal ini diberitakan di dalam ketiga injil selain Injil Yohanes; tetapi Injil Matius memberikan keterangan bahwa yang mengajukan pertanyaan itu adalah murid Yohanes, dalam Injil Markus yang bertanya adalah orang umum; sedangkan Injil Lukas yang menanyakan adalah orang Farisi. Tetapi ketiganya memberitakan perkataan Tuhan Yesus yang membicarakan tentang hal berpuasa dengan kalimat yang sama persis. Hal ini bukan karena kesalahan dari penulis Injil melainkan karena mereka mempunyai sumber cerita yang berbeda. Dengan demikian maka hal ini bisa dijadikan dasar untuk mengambil satu kesimpulan, bahwa perihal ‘berpuasa’ dalam banyak kesempatan, sering sekali ditanyakan orang kepada TuhanYesus ; baik oleh murid-murid Yohanes Pembaptis, orang awam , maupun oleh orang-orang Farisi. Dengan jawaban Tuhan Yesus yang konsisten terhadap pertanyaan itu berulang-ulang maka menjadikannya satu pokok pengajaran Tuhan Yesus yang sangat jelas.

Mat.9:14-15 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Mrk.2:18-20 Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Luk.5:33-35  Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Penggalan perkataan Tuhan Yesus di atas merupakan petunjuk bahwa orang beriman setelah ditinggalkanNya naik ke sorga akan ‘berpuasa’ seperti yang biasa juga dilakukan oleh penganut agama lain, yang bagi mereka tindakan itu dilakukan sebagai tindakan penyucian diri atas semua dosa-dosa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Atau merupakan suatu usaha untuk melakukan pendekatan kepada Sang Pencipta agar diberikan berkah di dalam hidupnya (Luk.2:36-37). Tetapi ‘berpuasa’ yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh penganut agama-agama itu.

Luk.2:36-37  Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Berpuasa yang dimaksudkanNya adalah berpuasa untuk tujuan tertentu dan dilakukan hanya cukup sekali saja seumur hidupnya. Karena berpuasa yang dilakukan adalah berpuasa untuk mengalahkan setan dan iblis, dan lama berpuasa adalah empat puluh hari empatpuluh malam tanpa makan dan minum (Mat.4:2). Seorang yang berpuasa menurut perintah Tuhan Yesus itu hanya diharuskan bagi murid-muridNya yang sudah dianggap layak, sebagai persiapan untuk pelayanan yang akan diberikan Tuhan kepadanya. Jadi puasa yang diperintahkan Tuhan itu sangat berbeda sifatnya dengan puasa yang dilakukan oleh murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Dan murid Tuhan Yesus yang dianggap belum layak tidak akan diperintahkanNya melakukan puasa itu.

Mat.4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya lapar lah Yesus.

Mat.6:16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Dalam pengajaran gereja yang dianggap murid Yesus adalah semua orang yang percaya dan beriman kepadaNya, namun dalam hal ini yang dianggap murid adalah orang yang menyerahkan hidupnya dan berikrar tidak kawin karena namaNya serta sudah dibaptis roh, mereka adalah murid lingkaran dalam (lihat pemuridan oleh Tuhan Yesus (8). Bagi mereka yang mejadi murid lingkaran dalam akan mendapatkan pengajaran langsung dari Nya (Gal.1:11-12) dengan melalui penglihatan dan mimpi serta karunia-karunia Roh yang diberikan kepadanya.

Gal.1:11-12 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.