Seperti yang sudah kita
ketahui dalam Injil, Tuhan Yesus mengajar banyak orang dengan
perumpamaan-perumpamaan yang sangat sulit dimengerti oleh pendengarNya
(Mat.13:34-35). Berkenaan dengan itu maka dalam Blog ini saya berusaha
untuk memberikan penafsiran yang mungkin akan dapat membantu saudara
seiman untuk memahami ajaran Tuhan Yesus, sehingga dapat menghayati
pengajaran Tuhan dan kehendakNya terhadap kita.
Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus banyak kita jumpai didalam Injil
Matius, Injil Markus dan dalam Injil Lukas , tapi tidak kita temukan
didalam Injil Yohanes. Dalam Injil Matius ada dua puluh enam
perumpamaan, dalam Injil Markus ada tujuh perumpamaan, dan dalam Injil
Lukas ada tiga puluh dua perumpamaan. Tetapi diantara
perumpamaan-perumpamaan dalam Injil-Injil itu terdapat
perumpamaan-perumpamaan yang sama, yang kita temukan dalam Injil matius
dan Injil Markus dan atau juga Injil Lukas. walaupun demikian tetap saja
perumpamaan-perumpamaan itu mendominasi Injil-Injil. Dari kenyataan ini
dapat disimpulkan bahwa perumpamaan -perumpamaan Tuhan Yesus merupakan
bagian yang sangat penting dalam Injil ( Khabar Gembira).
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapakah didalam khotbah atau
pendalaman Alkitab atau dalam buku-buku tafsir theologia sangat jarang
diajarkan atau bahkan tidak pernah dibahas , baik didalam kelas atau
forum diskusi. Bilamana hal ini (ternyata) benar maka bukankah Gereja
sudah mengurangi berita Injil dan menyalahi Alkitab dimana ada tertulis : ”
jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab
nubuat ini , maka Allah akan mengambil bagian -nya dari pohon kehidupan
dan dari kota kudus, seperti yang tertulis didalam kitab ini “ (Why.22:19).
Dan bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan : ”Karena Aku berkata
kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini , satu
iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat ,
sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu
perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain , ia akan menduduki tempat yang paling rendah
di dalam Kerajaan Sorga; . . .” (Mat.5:18-19).
Perumpamaan dalam Injil Matius :
1. Perumpamaan tentang garam dan terang dunia
2. Perumpamaan tentang hal mengumpulkan harta
3. Perumpamaan tentang hal kekuatiran.
4. Perumpamaan tentang menghakimi.
5. Perumpamaan tentang hal yang kudus dan berharga.
6. Perumpamaan tentang hal pengabulan doa.
7. Perumpamaan tentang jalan yang benar.
8. Perumpamaan tentang hal pengajaran yang sesat. .
9. Perumpamaan tentang dua macam dasar.
10. Perumpamaan tentang hal berpuasa.
11. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul. .
12. Perumpamaan tentang seorang penabur.
13. Perumpamaan tentang lalang diantara gandum. .
14. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi.
15. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga. .
16. Perumpamaan tentang pukat. .
17. Perumpamaan tentang domba yang hilang.
18. Perumpamaan tentang pengampunan.
19. Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur. .
20. Perumpamaan tentang dua orang anak. .
21. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. .
22. Perumpamaan tentang perjamuan kawin. .
23. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara. .
24. Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat.
25. Perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. .
26. Perumpamaan tentang talenta.
Perumpamaan dalam Injil Markus:
1. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul.
2. Perumpamaan tentang seorang penabur.
3. Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran.
4. Perumpamaan tentang biji sesawi.
5. Perumpamaan tentang garam.
6. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.
7. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara.
Perumpamaan dalam Injil Lukas:
1. Perumpamaan tentang orang buta .
2. Perumpamaan tentang pohon dan buahnya.
3. Perumpamaan tentang dua macam dasar.
4. Perumpamaan tentang anak-anak yang duduk di pasar
5. Perumpamaan tentang orang yang berhutang.
6. Perumpamaan tentang seorang penabur.
7. Perumpamaan tentang pelita.
8. Perumpamaan tentang hal mengikut Yesus.
9. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.
10. Perumpamaan tentang hal berdoa.
11. perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul.
12. Perumpamaan tentang kembalinya roh jahat.
13. Perumpamaan tentang pelita tubuh.
14. Perumpamaan tentang kekuatiran.
15. Perumpamaan tentang kewaspadaan.
16. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah.
17. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi.
18. Perumpamaan tentang siapa yang diselamatkan.
19. Perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih.
20 . Perumpamaan tentang hal mengikut Yesus.
21. Perumpamaan tentang domba yang hilang.
23. Perumpamaan tentang anak yang hilang.
24. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur.
25. Perumpamaan tentang hal hamba dan tuan.
26. Perumpamaan tentang kedatangan Kerajaan Allah.
27. Perumpamaan tentang hakim yang tak benar.
28. Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai.
29. Perumpamaan tentang unta dan lobang jarum.
30. Perumpamaan tentang uang mina.
31. Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.
32. Kedatangan Anak Manusia – Perumpamaan tentang pohon ara.
Dari sekian banyak perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan, sebagian
telah diterangkan arti dan maksud perumpamaan itu oleh Tuhan sendiri,
sebagian dapat dimengerti dengan menyimpulkannya, dan sebagian lagi
masih sulit untuk dimengerti. Tuhan Yesus berfirman bahwa
perumpamaan-perumpamaan itu menjadi rahasia bagi mereka yang tidak
beriman kepadaNya, tapi murid -murid Nya diberi karunia untuk mengetahui
arti perumpamaan-perumpamaan itu (Mat.13:11).
1. Perumpamaan tentang garam dan terang dunia (Mat.5:13-16),
perumpamaan ini mengingatkan bahwa sebagai murid Yesus harus memberikan
kesaksian hidup yang baik (seperti garam) dan kebaikan yang telah
menjadi sifat dasar murid Yesus itu akan menjadi teladan bagi
orang-orang disekelilingnya (seperti terang) sehingga Allah
dipermuliakan karenanya..
2. Perumpamaan tentang hal mengumpulkan harta (Mat.6:19-24),
perumpamaan ini mengajarkan bahwa sedikit atau banyaknya harta yang ada
pada kita tidak menjadi dasar agar dapat berbuat baik dan memberikan
kesaksian hidup yang baik. Karena pada keadaan kekurangan orang dapat
memberikan kesaksian hidup yang baik dari kekurangannya, dan orang yang
banyak harta belum tentu dapat menggunakannya untuk memberi kesaksian
hidup yang baik. Jadi baik orang yang kekurangan atau yang
berkelimpahan mempunyai kesempatan yang samauntuk memberikan kesaksian
hidup yang baik.
Orang beriman yang mempunyai kesaksian hidup yang baik dikatakan sebagai
orang yang mempunyai mata yang baik, dan menjadikan matanya sebagai
pelita agar dapat sampai kepada Allah.
3. Perumpamaan tentang hal kekuatiran (Mat.6:25-34),
perumpamaan ini mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup, kita harus
berpegang pada iman bukan pada harta dunia. Dengan berpegang pada iman
maka segala kesusahan yang kita hadapi dapat kita jalani dengan lebih
mudah dan ringan, sehingga dalam keadaan apapun masih ada sukacita damai
sejahtera dalam hidup kita, keadaan demikian yang dikatakan Tuhan Yesus
bahwa kita telah menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya. Karena Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran , damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm.14:17).
4. Perumpamaan tentang hal menghakimi (Mat.7:1-5),
perumpamaan ini mengingatkan kita agar selalu instrospeksi diri dan
tidak munafik. Menjauhkan diri dari perasaan paling pintar, paling
benar, paling suci, dan paling berkuasa. Bila tidak demikian maka kita
tidak akan dapat menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya itu.
5. Perumpamaan tentang hal yang kudus dan berharga (Mat.7:6), perumpamaan ini memberi peringatan kepada kita bahwa janganlah mengajarkan hal Kerajaan Allah kepada orang munafik,
yaitu orang yang tampil sebagai orang yang baik dan beriman tetapi
dengan tersembunyi tidak segan melakukan perbuatan-perbuatan jahat,
ibarat anjing yang kesukaannya memakan muntahannya sendiri dan memakan
bangkai yang sudah berbau busuk. Dan orang yang hidup didalam dosa,
yaitu orang yang secara terbuka melakukan perbuatan-perbuatan jahat
tanpa malu, ibarat babi yang kesenangannya berkubang dalam lumpur.
6. Perumpamaan tentang hal pengabulan doa (Mat.7:7-11),
perumpamaan ini mengajarkan agar kita senantiasa berdoa kepada Allah
supaya diberikan sukacita damai sejahtera yang dari sorga. Tetapi orang
banyak sudah salah mengartikan pengajaran Tuhan ini, sehingga dalam doa
mereka selalu berisi permintaan-permintaan untuk memuaskan keinginan
dagingnya, mereka berdoa meminta berkat dunia, meminta jodoh, meminta
anak, dan meminta lain-lain yang sifatnya duniawi, sehingga permintaan
doa mereka tidak dikabulkan.
Semua yang bersifat duniawi sudah ditentukan Allah Bapa dan sudah
diberikan kepada kita menurut kerelaan Nya, kita hanya mengusahakannya
saja. Lebih dari pada itu Tuhan menginginkan kita meminta hal-hal yang
bersifat rohani yang berguna bagi pertumbuhan iman kita, yaitu Roh Kudus
(Luk.11:13).
7. Perumpamaan tentang jalan yang benar (Mat.7:12-14), perumpamaan ini mengajarkan agar kita tidak hidup menuruti keinginan daging melainkan keinginan Roh, sebab
mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;
mereka yang hidup menurut Roh , memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena
keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan
damai sejahtera (Rm.8:5-6). Jadi jalan melalui pintu yang lebar
dan luas adalah hidup menurut daging sedangkan pintu yang sempit dan
sesak adalah hidup menurut Roh.
8. Perumpamaan tentang hal pengajaran yang sesat (Mat.7:15-23),
perumpamaan ini memperingatkan kita bahwa beriman bukan hanya percaya,
tetapi harus dengan kesaksian hidup yang baik atau mempunyai buah yang
baik. Banyak orang beranggapan bahwa dengan beribadah dan mengikuti
kegiatan di gereja, Tuhan berkenan kepadanya. Bila sudah menjadi majelis
di gerejanya, Tuhan sudah berkenan kepadanya. Dan bila menjadi pendeta
atau gembala jemaat, Tuhan berkenan kepadanya. Anggapan seperti itu
adalah anggapan yang keliru, karena Tuhan mengatakan bahwa “Pada
hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan,
bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan
mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal
kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat.7:22-23).
9. Perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat.7:24-27),
perumpamaan ini memberitahukan bahwa beriman kepadaNya dengan diiringi
kesaksian hidup yang baik adalah ibarat mendirikan rumah diatas batu,
yang tidak akan jatuh oleh angin pencobaan dan roboh oleh banjir berkat
duniawi. Dan orang beriman yang mempunyai kesaksian hidup yang baik
dikatakan Tuhan Yesus sebagai orang bijaksana yang akan mendapat tempat
di dalam Kerajaan Allah.
10. Perumpamaan tentang hal berpuasa (Mat.9:14-17),
perumpamaan ini menerangkan bahwa pengajaran Taurat (PL) dan pengajaran
Injil (PB) mempunyai kebenarannya sendiri pada masanya. Puasa dalam
pengajaran Yohanes Pembaptis adalah untuk membersihkan diri dari dosa,
sedangkan puasa dalam pengajaran TuhanYesus adalah untuk mengalahkan
kuasa setan dan menerima kuasa Roh Kudus. Dengan demikian adalah tidak
mungkin untuk mencampurkan atau menggabungkan dua pengajaran itu, bila
dilakukan akan merusakan pengajaran yang lama karena pengajaran PL
merupakan gambaran atau sketsa kehendak Allah Bapa. Sedangkan pengajaran
Tuhan dan perbuatanNya adalah penggenapan kehendak Allah Bapa. Puasa
dalam kenyataannya tidak mungkin dapat menghilangkan dosa manusia,
melainkan menjadi simbol hidup dengan menahan hawa nafsu duniawi atau
keinginan daging. Kebenarannya adalah bahwa dosa hanya dapat dibersihkan
oleh darah Yesus yang tercurah diatas kayu salib melalui iman. Dalam
hal ini Tuhan Yesus telah menggenapi pengajaran Yohanes Pembaptis.
11. Perumpamaan tentang Yesus dan Beelzebul (Mat.12:22-37),
dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk percaya
bahwa kuasa Roh Kudus dinyatakan oleh Tuhan Yesus dan kemudian oleh
hamba-hambaNya. Dengan mempercayai kenyataan itu maka selanjutnya harus
mendengarkan firman apa yang disampaikan kepada kita dan hidup
menurutiNya. Bila kita tidak bisa percaya dan menuding kuasa Roh Kudus
itu sebagai kuasa setan, maka itu merupakan hujat bagi Roh Kudus, dan
itu menjadi suatu dosa yang tidak dapat diampuni, karena sesungguhnya
kita tidak akan pernah bertobat dan melakukan kehendak Tuhan.
12. Perumpamaan tentang seorang penabur (Mat.13:1-23),
dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memberitahukan bahwa setiap orang
yang percaya kepadaNya akan mempunyai pertumbuhan iman yang
berbeda-beda, bahkan ada yang kemudian mati imannya. Dan pertumbuhan
imannya itu dapat kita ukur dari seberapa sempurna/ matang buahnya itu,
yaitu seberapa banyak karakter dari buah Roh itu nyata dalam hidupnya.
Karakter dari buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan
penguasaan diri (Gal.5:22). Jadi pada akhir hidup kita, ketika
dipanggil Tuhan, masing-masing kita akan mempunyai raport
sendiri-sendiri yang merupakan hasil pelajaran kita mengikut Tuhan
Yesus. Yang imannya mati adalah mereka yang meninggalkan Tuhan dan yang
imannya tidak bertumbuh adalah mereka yang masih hidup dengan cara lama
(masih duniawi) .
13. Perumpamaan tentang lalang diantara gandum (Mat.13:24-30;
36-43), perumpamaan ini menerangkan bahwa tidak semua orang yang datang
ke gereja dan mengaku beriman kepada Tuhan Yesus mempunyai hati yang
tulus, mereka yang tulus oleh TuhanYesus digambarkan sebagai benih
gandum , dan kemudian berbuah Roh. Tetapi banyak diantara mereka yang
datang ke gereja dengan motivasi lain, ada yang karena ingin
menyenangkan pasangan hidupnya, ada yang karena pacarnya, ada yang
karena temannya, ada yang karena saudaranya, ada yang karena anaknya,
ada yang karena menantunya, ada yang karena mertuanya, ada yang karena
ingin mencari jodoh, ada yang karena ingin mendapatkan pekerjaan dan ada
yang karena ingin mendapatkan bantuan atau materi dan lain-lain. Orang
yang demikian digambarkan sebagai benih ilalang, mereka tidak akan
berbuah Roh.
14. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi
(Mat.13:31-35), perumpamaan ini menerangkan bahwa pertumbuhan Kerajaan
Allah mulai dari satu orang yaitu Yesus, yang bertumbuh dan memenuhi
seluruh bumi, seperti biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar. Dan
orang tidak menyadari perkembangan Kerajaan Allah seperti halnya
perkembangan ragi dalam adonan tepung, tahu-tahu sudah mengkhamirkan
seluruh adonan. Orang juga tidak menyadari bilamana mereka mulai beriman
kepada Tuhan Yesus.
15. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga
(Mat.13:44-46), perumpamaan ini menerangkan bahwa seorang yang
menemukan sukacita damai sejahtera dari Kerajaan Allah tidak lagi
mengganggap penting harta dan semua yang dimilikinya, ia lebih
menghargai hal rohani dibanding hal duniawi. Karena Kerajaan Allah adalah tentang hal rohani yaitu tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh kudus(Rm.14:17).
16. Perumpamaan tentang pukat (Mat.13:17), perumpamaan
ini memberitahukan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tetapi
tidak berpikiran rohani dianggap sebagai orang jahat. Dan ahli Taurat
atau orang yang berpikiran duniawi tidak akan mengerti pengajaran
Kerajaan Allah, karena mereka menganggapnya sebagai hal baru yang sulit
mereka terima.
17. Perumpamaan tentang domba yang hilang
(Mat.18:12-14), dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus memberitahukan bahwa
satu jiwa yang dapat diselamatkan sangat berharga dimata Allah. Karena
Allah menginginkan semua orang yang percaya dapat diselamatkan dan
memperoleh hidup kekal didalam KerajaanNya (Yoh.3:16). Dan mereka yang
tidak percaya tidak diperhitungkan Allah sebab mereka tidak dikenalNya
(Mat.7:23).
18. Perumpamaan tentang pengampunan (Mat.18:21-35),
perumpamaan ini menggambarkan begitu besar kasih Allah kepada manusia
dan menyuruh kita mengasihiNya pula, yaitu dengan mengasihi sesama
manusia seperti kita mengasihi diri sendiri. Adalah tiada batas
pengampunan seseorang kepada sesamanya, karena selama ada kasih didalam
diri manusia, maka akan dapat mengampuni saudaranya dengan tulus hati
dan tanpa batas. Tetapi bila tiada kasih maka pengampunan yang
diberikan hanya sebatas dibibir saja.
19. Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Mat.20:1-16),
perumpamaan ini menggambarkan kemurahan Allah yang sifatnya mutlak /
absolut, kita tidak bisa memprotesNya, apalagi mau mengaturNya. Bahwa
setiap orang yang karena nama Yesus meninggalkan semua miliknya maka
Tuhan akan menggantinya seratus kali lipat dan juga memberi hidup
kekal, tanpa membeda-bedakan/ memperhitungkan berapa lama mereka
mengikutiNya. Karena Allah memberikan hidup kekal kepada mereka pada
akhir hidupnya, maka seorang yang mengikut Tuhan sejak masih muda akan
menerima upah (hidup kekal) lebih kemudian dari pada yang mengikut Yesus
ketika sudah berumur. Tetapi mempunyai kesempatan / waktu lebih banyak
untuk melatih dirinya menjadi sempurna, dalam iman dan kasih pada
sesamanya.
20. Perumpamaan tentang dua orang anak (Mat.21:28-32),
perumpamaan ini mengajarkan bahwa sebagai orang yang beriman tidak boleh
berlaku munafik, mengaku percaya kepada Yesus tetapi tidak hidup
menurut firmanNya. Rajin menghadiri kebaktian di gereja dan menghafal
Firman Tuhan tetapi kesaksian hidup dan tabiatnya masih sama dengan
hidup manusia lamanya. Karena iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yak.2:20).
21. Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mat.22:1-14),
perumpamaan ini mengajarkan bahwa untuk masuk kedalam Kerajaan Allah
harus mengenakan pakaian yang indah, yaitu kesucian diri yang merupakan
hasil dari iman yang diiringi dengan kebajikan. Semua orang dipanggil
masuk kedalam Kerajaan Allah tetapi sedikit yang mendapatkannya, karena
banyak orang berimantetapi masih hidup dengan melayani keinginan
dagingnya, tidak hidup menurut Roh.
22. Perumpamaan tentang kedatangan Anak Manusia-Perumpamaan tentang pohon ara (Mat.24:29-36),
perumpamaan ini memberitahukan tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus yang
ke dua, yaitu masa dimana banyak penderitaan dan dunia kacau, tetapi
kuasa Kerajaan Allah dinyatakan dengan serentak diseluruh penjuru bumi.
Banyak orang beriman dimana-mana melakukan perbuatan ajaib dengan kuasa
Roh Kudus (Mat.24:15-28). Setelah itu akan banyak orang-orang beriman
yang mencapai kesempurnaan imannya, dan ketika Tuhan Yesus datang banyak
orang-orang beriman itu diangkat secepat kilat dan bertemu dengan Tuhan
Yesus diudara, seperti burung nazar mengerumuni yang bangkai. Bila ada
dua orang atau lebih sedang bekerja atau sedang bersekutu, diantara
mereka ada yang diangkat dan lainnya yang tertinggal hanya
menyaksikannya. Kejadian itu datangnya sangat tiba-tiba dan tidak
terduga, seperti kedatangan pencuri atau kilat, sehingga kita harus
mempersiapkan diri senantiasa selagi masih ada waktu untuk menyambut
kedatanganNya (Mat.24:37-44).
23. Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat
(Mat.24:45-51), perumpamaan ini mengingatkan kepada hamba-hamba Tuhan
bahwa hamba yang setia adalah mereka yang menggembalakan domba-dombaNya
dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Dan ketika kedatangan
Tuhan Yesus yang ke dua ia akan mendapatkan tempat yang mulia dalam
KerajaanNya.
Sedangkan hamba yang jahat adalah mereka yang menggembalakan
domba-dombanya dengan berlaku sebagai penguasa yang mengambil kesempatan
untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri dan hanya memikirkan
kepuasan nafsu dagingnya saja.
24. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh
(Mat.25:1-13), perumpamaan ini mengingatkan agar kita senantiasa
memberikan kesaksian hidup yang baik (pelita) dan hidup menurut Roh
Kudus (buli-buli minyak), hal ini dapat sangat efektif bila kita
mempraktekkan karunia Bahasa Roh dalam doa penyembahan setiap hari.
Karena karunia ini diberikan Tuhan Yesus kepada orang beriman yang
berguna untuk membangun iman orang itu sendiri (1 Kor.14:4).`
25. Perumpamaan tentang talenta (Mat.25:14-30), perumpamaan
ini berbicara tentang pelayanan dengan kuasa Roh Kudus. Masing-masing
hamba Tuhan mendapatkan Karunia (talenta) yang jumlahnya berbeda-beda
menurut seberapa besar kesanggupan hamba Tuhan itu menyerahkan hidupnya.
Yang paling besar adalah mau menyerahkan hidup seutuhnya bagi Tuhan,
dalam arti tidak menikah bagi Tuhan (Rm.12:1). Mereka yang diberi kuasa
yang besar akan mendapat tugas yang besar, dan yang diberi kuasa sedang
akan mendapat tugas yang sedang, tetapi yang paling sedikit mendapat
tugas untuk bersaksi. Yang mendapat kuasa yang besar dan kuasa yang
sedang dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dipuji Tuhan,
sedangkan yang mendapat tugas hanya bersaksi tidak menjalankannya
dengan baik. Maka yang terakhir ini akan dianggap sebagai hamba yang
jahat dan malas. Disamping itu keselamatan yang telah diberikan
kepadanya akan diambil dari padanya pula.
26. Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran (Mrk.4:21-25),
perumpamaan tentang pelita berbicara tentang kesaksian hidup yang baik
dan pembukaaan Firman Tuhan, dimana kedua hal itu tidak mungkin dapat
disembunyikan atau dirahasiakan untuk dinikmati sendiri saja. Karena
Tuhan Yesus berfirman:”Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8).
Sedangkan perumpamaan tentang ukuran berbicara tentang kesanggupan dan
kesungguhan untuk hidup menurut kehendak Tuhan Yesus. Bagi mereka yang
mau dan sanggup menyerahkan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan akan
dipercayakan sesuai dengan kesanggupannya itu.
27. Perumpamaan tentang orang buta / hal menghakimi (Luk.6:37-42),
perumpamaan ini memperingatkan bahwa apabila kita tidak melakukan atau
mempraktekan firman yang kita peroleh, jangan sekali-kali mengajarkannya
kepada orang lain, karena firman Tuhan tanpa dilakukan akan menjadi
teori saja. Dan pada akhirnya hanya akan menjadikan orang-orang munafik,
yang diluar terlihat beriman dan baik tetapi dengan sembunyi-sembunyi
masih suka melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang dimurkai Tuhan.
28. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Luk.13:6-9),
perumpamaan ini memperingatkan para pemimpin atau hamba Tuhan di dalam
gereja, bahwa apabila mereka tidak berbuah Roh maka dirinya tidak akan
mendapat tempat di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian berarti
keselamatan diberikan kepada kita tidak hanya dengan percaya saja,
tetapi juga harus dengan diiringi pembaharuan diri (hidup baru). Ini
sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus bahwa orang diselamatkan karena
iman bukan karena perbuatan baik ( Rm.3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Dan Ef.2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu , tetapi pemberian Allah.) dan pengajaran Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yak.2:20) dan (Yak.2:22) . . . , bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna
29. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Luk.16:1-9),
perumpamaan ini mengajarkan agar kita tidak cinta uang, melainkan
menggunakan uang untuk berbuat kebaikan . Adalah suatu sikap yang bijak
bila kita bisa menggunakan uang untuk menolong orang dan menumbuhkan
iman, karena banyak orang yang hatinya kemudian melekat pada uang dan
menjadi kikir. Perpuluhan adalah pengajaran gereja untuk melatih jemaat
untuk tidak cinta uang, tapi sayang kemudian terjadi pergeseran dan
penyelewengan dari ajaran ini, dan menjadi ajarantentang teologi
kemakmuran, yang bertentangan dengan pengajaran Injil. Dan ironisnya
Tuhan sudah memperingatkan dengan perumpamaan dalam Injil Lukas,
(Luk.6:39) Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada
mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan
jatuh kedalam lobang?
30. Perumpamaan tentang hakim yang tak benar
(Luk.18:1-8), perumpamaan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak
berhenti berdoa meminta pertolongan Tuhan ketika kita berada dalam
kesusahan, apapun bentuknya. Karena Tuhan Yesus menjamin bahwa Allah
pasti akan menolong kita tepat pada waktunya.
Luk.18:7 Tidakah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya
yang siang-malam berseru kepadaNya? Dan adakah ia mengulur-ulur waktu
sebelum menolongnya?
31. Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai (Luk.18:9-14),
perumpamaan ini mengajarkan bahwa seseorang yang menyesali kesalahannya
dan merendahkan diri dihadapan Tuhan akan dibenarkanNya, sebaliknya
Tuhan tidak berkenan kepada mereka yang merasa benar dan merasa sudah
melakukan perintahNya tetapi tidak pernah bertobat dengan
sungguh-sungguh.
Hampir semua orang berlaku seperti orang Farisi, merasa paling rohani,
paling baik, paling benar, paling pintar, paling tahu dan paling
segalanya, tetapi tidak mengalami hidup baru, tidak mengalami
pembaharuan diri, masih menggunakan tabiat lamanya, masih sama seperti
sebelum bertobat.
Dari semua uraian tentang
perumpamaan-perumpamaan diatas dapat disimpulkan bahwa Tuhan Yesus
menghendaki semua orang yang beriman kepadaNya dapat diselamatkan dan
mendapat hidup yang penuh sukacita damai sejahtera dari sorga, sejak
masih ada di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal di dalam
Kerajaan Sorga. Untuk itu maka Tuhan telah memberikan sarana dan prasarana agar tujuan itu tercapai, yaitu gereja dan Roh Kudus beserta karunia-karunia Roh Kudus.
Gereja adalah sarana yang disediakan Tuhan bagi
jemaatnya agar masing-masing orang beriman dapat mengasah kasih diantara
sesamanya (Ams.27:17).
Roh Kudus adalah Roh penolong , Roh pembimbing dan Roh
penghibur yang diberikan sebagai sarana bagi setiap orang yang beriman, untuk
mengajarkan kepadanya akan segala sesuatu dan mengingatkannya akan firman Tuhan
(Yoh.14:26).
Karunia Roh Kudus adalah prasarana yang terdiri dari sembilan karunia (1Kor.12:8-10) yang berguna untuk:
1. Membangun gereja,
yaitu karunia-karunia yang berfungsi untuk penginjilan, yaitu Karunia
kesembuhan, Karunia mujizat, Karunia membedakan roh; dengan
karunia-karunia ini orang-orang ditarik untuk percaya dan masuk kedalam
gereja.
2. Membangun iman orang percaya secara pribadi,
yaitu karunia berbahasa Roh, Karunia bernubuat, Karunia iman; dengan
karunia-karunia ini orang percaya diberi kemampuan untuk bertumbuh dan
mempertahankan imannya.
3. Membangun jemaat, yaitu
Karunia bernubuat, Karunia mengartikan bahasa Roh, Karunia hikmat,
Karunia berkata-kata dengan pengetahuan; dengan karunia-karunia ini
jemaat diberi pelajaran , bimbingan , teguran, penghiburan dan perintah
oleh TuhanYesus sehingga iman jemaat disegarkan dan ditumbuhkan.
Amin.
BalasHapus